Melasti Tawur Kasanga

Meningkatkan bhakti, menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa, dan mencegah kerusakan alam

Ngiring Prawatek Dewata

Melakukan perjalanan suci menuju sumber air seperti laut atau mata air lainnya yang memiliki nilai sakral

Anganyutaken Laraning Jagat

Membangkitkan spiritualitas untuk berusaha menghilangkan kesengsaraan hidup di bumi secara ragawi dan rohani

Anganyutaken Papa Klesa

Membinasakan kepapaan yang disebabkan oleh oleh awidya, asmita, raga, dwesa dan abhiniwesa

Anganyuntaken Letuhing Bhuwana

Menjaga kelestarian alam semesta dengan membersihkan pencemaran pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa

Rabu, 19 Februari 2014

GALUNGAN SEBAGAI WUJUD PELAKSANAAN KARMA DAN WATAK DALAM MEMBENTUK MANUSIA SEJATI



OM ASATO SADMAYA TAMASO MAJYOTIR GAMAYA MRTYOR MA ARRTAM GAMAYA
OM LOKA SAMASTHA SUKINO BHAWANTU
(Om Hyangwidhi yang mahasuci, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran  menujucahaya pengetahuan yang terang, Lepaskanlah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi .
Om HyangWidhi semoga alam raya beserta segala isinya dapat hidup rukun dan damai
Apabila di cermati tema tersebut ada tiga sub pokok yaitu Galungan, Karma dan Watak. Galungan yang telah dirayakan Umat Hindu tepatnya, Rabu Kliwon Wuku Dungulan tanggal 27 Maret 2013 mengandung makna sebagai hari raya peringatan menangnya dharma melawan adharma,  dari makna hari raya ini tentunya kita bertanya kemenangan yang seperti apa yang telah kita raih sehingga umat Hindu  merayakannya dengan penuh suka cita dan mewah (dengan berbagai hiasan-hiasan, penjor, gantungan yang menanmbah indah suasana sembahyang hari tersebut.
Di dalam diri manusia terdapat dua unsure yaitu Ahamkara (sumber kejahatan) dan Budhi (sumber kebaikan), salah satu contoh Ahamkara adalah musuh yang ada dalam diri manusia yakni Sad Ripu (kama, lobha, krodha, moha, mada dan matsarya). Penjuangan dari sifat-sifat jahat dan buruk akan terjadi setiap saat dan terus-menerus dalam diri manusia.
Pergulatan antara ahamkara (sumber kejahatan) dengan budhi (sumber kebaikan) dalamdirimanusiaterjadisetiapsaat. Dan sesungguhnyaperjuanganiniadalahsatupergulatan yang paling sulitdapatdiatasi.Sebab, jikasraddhadan bhakti tidak kuat maka manusia itu akan dikuasai oleh ahamkara-nya. Maka kemenangan yang telah di rayakan ini sebagai wujud penguasaan ahamkara oleh budhi. Orang yang bijak menyampaikan:
“apabila kita dapat menaklukkan musuh sebanyak seribu orang (musuh) adalah disebut
pahlawan, orang yang dapat menaklukkan dirinya sendirinya pun juga disebut pahlawan.
Bahkan menundukkan musuh-musuh yang ada di dalam diri sendiri (yang tergolong Sad Ripu itu), sesungguhnya tidaklah semudah menundukkan seribu musuh yang ada di dalam alam lingkungan kita”

Maka penguasaan dan pengendalian diri sungguh amat mutlak diperlukan dalam rangka pembentukan watak dan kepribadian.
Dan karma adalah Aktifitas, Segala perbuatan yang telah dilakukan seseorang ialah karma, dapat pula diartikan sebagai akibat dari perbuatan, yang secara batiniah dimaksudkan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebab dari perbuatan-perbuatan yang lampau.
Dalam falsafah dikemukakan bahwa pengetahuan adalah cita-cita atau tujuan hidup seseorang dan kesenangan bukanlah suatu tujuan hidup seseorang. Amatlah keliru jika kita menduga bahwa kesenangan itua dalah tujuan hidup, sebab dari sekian banyaknya kesulitan yang menimpa seseorang di dunia ini ialah karena adanya pikiran yang keliru bahwa kesenanganlah yang harus di kejar. Setiap keadaan suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan merupakan guru-guru bagi kita dalam upaya memperoleh suatu pengetahuan daripengalaman, yang kemudian akan meninggalkan berbagai kesanya itu dari baik dan buruk yang akan membentuk "karakter atau watak”. Dalam setiap kehidupan orang-orang besar sudah pasti mereka telah menerima pelajaran-pelajaran dari sebuah nilai kesusahan bukan dari kesenangan, dankemiskinan/kesusahan memberikan pelajaran yang lebih berarti dari pada kekayaan.
Semua pengetahuan baik duniawi maupun rohani, ada di dalam pikiran seseorang, Dalam banyak hal pengetahuan itu tidak ditemukan karena ia tinggal tertutup, bilamanatutupanituperlahan-lahan di buka maka kita berkata "saya tahu", dan kemajuan daripada ilmu pengetahuan disebabkan oleh kemajuan dari proses pembukaan pikiran. Orang yang lapisan-lapisan pikirannya sudah tersingkap semuanya disebut orang yang sangat mengetahui (Waskita).
Pengetahuan inilah yang mampu menuntun manusia dalam melaksanakan karma karena pengetahuan itu adalah suci, yang membuat karma seseorang tidak baik karena pengaruh unsure Ahamkara yang lebih besar dibandingkan Budhi. Budhi yang menjadi dasar setiap aktifitas akan melahirkan watak atau karakter yang luar biasa menjadikan cermin manusia sejati.
Kalau kita ingat ada sebuah contoh pahlawan, kira-kira dua bulan yang lalu di daerah bekasi seorang karyawan bank yang tugas setiap harinya adalah klining service disuatu hari dia menemukankan tong plastik yang tergeletak di depan pintu masuk bank, setelah diperiksa ternyata isinya uang sejumlah 100 juta, di bawalah segepok uang itu oleh seorang klining service tersebut, tetapi klining service ini mempunyai budhi yg lebih besar dibandingkan ahamkara sehingga uang itu tidak dibawa pulang, melainkan dilaporkan kepada security bank yang akhirnya diserahkan ke pihak bank, ternyata uang tersebut adalah milik bank yang terjatuh. Satu contoh kemenangan manusia terhadap ahamkara yang ada dalam diri manusia
Dalam kitab suci Bhagawad Gita dijelaskan,
"hanya dengan perbuatanlah seseorang itu bias memperoleh kesempurnaan, karena itu
hendaknyalah pekerjaan itu dilakukan untuk pemeliharaan dunia"
Dari isi kitab di atas tentunya hari ini kita dapat mengambil hikmah dari perayaan hari raya Galungan, manusia yang mampu membangkitkan Budhi dan memendam ahamkara dalam setiap aktifitasnya/karma itu yang disebut dengan manusia sejati.
Penulis: Leni Kusmiati, S.Ag. Guru Agama Hindu di SMTP Negeri 1 Kupang, Anggota pengurus harian PHDI NTT bidang Wanita, Pemuda, dan Anak.

Selasa, 18 Februari 2014

MAHA PRALAYA (HARI KIAMAT) DAN TANDA-TANDANYA



Om Swastyastu,
Hari kiamat merupakan hari yang datangnya bagi sebagian umat manusia merupakan hari yang sangat ditakuti, akan tetapi bagi sebagian umat dimuka bumi lainnya hari yang sangat ditunggu-tunggui. Terlepas dari dua paradigma di atas, bagi umat hindu sendiri mengenal adanya hari kiamat, lebih jauh bahwa setelah masa itu, akan diganti lagi dengan kehidupan yang baru dimulai dari proses awal penciptaannya. Dalam Kitab Brahmanda Purana dengan salah satu ajarannya yang ditekankan adalah mengenai adanya hari kiamat (Pralaya).
Pralaya diartikan sebagai suatu keadaan dimana seluruh makhluk, manusia,
tumbuh-tumbuhan dikatakan musnah sehingga tidak ada lagi kehidupan di dunia
ini. Kejadian ini terjadi pada akhir jaman Kali (Kaliyuga).
Terdapat empat macam Pralaya, yaitu:
1.     Nityapralaya; merupakan suatu kejadian setiap hari dari semua makhluk hidup mengalami saat kematian hingga masa kematian.
2.     Brahmapralaya; ialah pralaya yang dialami oleh Brahma, diartikan sebagai Brahma tidur/istirahat dan pada saat itulah semua kehidupan tidak ada lagi, musnah.
3.     Praktrapralaya; diartikan sebagai masa awal penciptaan dimana saat ini merupakan saat dimana alam yang tidak nyata (alam awyaka).
4.     Atyantikapralaya; masa dimana dari alam yang tidak nyata menjadi nyata.
Di sini akan kita coba membahas mengenai Brahma Pralaya. Pada saat itu dikatakan merupakan hari kiamat. Tapi jika kita telaah lebih lanjut dengan adanya pralaya yang ke tiga dan ke empat, ternyata hari kiamat yang dimaksudkan bukanlah merupakan akhir dari kehidupan itu sesungguhnya, karena kehidupan berikutnya akan terjadi lagi. Akan tetapi kehidupan yang baru tersebut adalah bukan dari lanjutan kehidupan yang lalu. Hal ini karena Tuhan akan melakukan kerja kembali dan menciptakan lagi suatu kehidupan dengan melalui suatu proses yang dari awal lagi, yaitu dari sesuatu yang tidak ada menjadi sesuatu yang ada yang selanjutnya akan terciptalah sesuatu yang lainnya seperti awalnya dan masa kemusnahan ini memakan waktu yang sangat lama (satu pararddha yang sama dengan 17 angka nol) dan kembali lagi ke jaman Krtayuga. Demikian kalau kita artikan dalam kitab Brahmanda Purana mengenai Maha Pralaya.
Pralaya dikatakan akan terjadi pada jaman Kaliyuga. Jaman Kaliyuga merupakan jaman terakhir dari ke empat jaman yang ada yang antara lain adalah jaman Kretayuga, jaman Tretayuga, dan jaman Dwaparayuga, dan terakhir adalah jaman Kaliyuga. Dikatakan bahwa umur manusia pada setiap jaman rata-rata tidaklah sama, rata-rata panjang umur manusia akan semakin berkurang dari satu jaman ke jaman lainnya, pada tiga jaman yang pertama rata-rata umur manusia masih di atas 100 tahun, selanjutnya hingga ke jaman Kaliyuga dikatakan bahwa rata-rata umur manusia tidak lebih dari 100 tahun.
Terjadinya Brahma Pralaya adalah sebagai berikut; pada akhir masa satu kalpa atau sehari Brahma, yaitu sama dengan 1000 yuga, dunia akan musnah. Selama 1000 tahun dunia akan timbul masa kekeringan sehingga dapat memusnahkan semua ciptaan ini. Kejadian ini dimulai dengan terjadinya pengisapan yang terus menerus yang dilakukan oleh tujuh macam sinar matahari yang akan mengosongkan air-air ini yang ada di muka bumi, yaitu di alam patala dan samudra.
Dengan telah habisnya air itu akibat diserap oleh ketujuh sinar matahari tersebut, maka akan timbul tujuh gumpalan air yang terpisah dan seterusnya akan menjadi tujuh bola pijar yang sekaligus akan membakar habis segala yang ada dimuka bumi dan planet lainnya sampai surga pun musnah. Sedangkan penghuni yang ada akan dipindahkan ke Mahaloka dan dari situ kelak akan dipindahkan ke Janaloka. Dikatakan selanjutnya adalah dunia akan kembali lagi dari jaman Krtayuga melalui Bathara Wisnu sebagai kekuatan dan fungsi Brahman sebagai pemelihara suatu kehidupan hingga kemudian ke Bathara Brahma sebagai fungsiNya sebagai pencipta.
Apakah Brahma Pralaya sudah semakin dekat?. Kalau kita cermati keterangan di atas tentang bagaimana proses terjadinya Brahma Pralaya, kemudian kita mencoba untuk menghubung-hubungkan dengan keadaan dunia yang akhir-akhir ini dengan segala problemanya, seperti:
1.     Hutan semakin gundul; terjadi pembalakan hutan secara ilegal, penebangan pohon dimana-mana, luasan hutan sudah semakin berkurang, peralihan fungsi hutan terjadi dimana-mana,  lahan-lahan kosong sudah semakin menyempit yang kemudian diganti dengan pembangunan pemukiman, keserakahan manusia sudah merajalela dengan merusak lingkungan yang ada, ruang terbuka hijau sudah hampir-hampir sulit dijumpai, dlsbgnya.
2.     Moral manusia semakin merosot; moral manusia saat ini sudah sangat merosot, terjadi perkosaan dimana-mana, antara bapak kandung dengan anak kandungnya atau anak tirinya, terjadinya perselingkuhan yang sangat terbuka bisa terjadi dimana-mana, hubungan sex bebas, anak-anak dengan cara yang begitu mudah dapat mengakses gambar atau foto-foto atau film-film porno. Anak sudah tidak menghargai orang tuanya lagi, anak sekolah tidak lagi menghormati gurunya dll.
3.     Kejahatan yang semakin meningkat; kejahatan dari tingkat anak-anak, remaja, dan kejahatan orang tua sudah sangat tinggi, bahkan perbedaan antara kejahatan anak-anak, remaja, dan orang tua sudah tidak jelas perbedaannya, pada bagian mana yang menunjukkan perbedaannya. Perampokan, pencurian, pemerasan, korupsi, semuanya sudah semakin mengkhawatirkan.
4.     Dunia semakin panas/kekeringan dimana-mana; kekeringan telah terjadi dimana-mana, sumber air semakin sulit/berkurang. Beberapa sumber mata air telah kering, beberapa danau telah berubah bentuk, yang tadinya sebagai sumber air, telah berubah menjadi kompleks hunian. Demikian pula daerah-daerah yang tadinya berfungsi sebagai sumber resapan telah beralih fungsi. Kekeringan terjadi dimana-mana, kerawanan pangan adalah sebagai dampak dari kekeringan tadi. Sumber air bersih sudah sangat langka, akibatnya yang tadinya kotor dan berbau, kini diolah agar dapat dikonsumsi. Sumber penyakit pun merajalela akibat dari pengolahan air yang tidak higenis oleh karena air tersebut berasal dari sumber air yang sangat kotor.
5.     Terjadi perang dimana-mana; perang dimaksudkan adalah bukan saja perang yang terjadi antara negara, akan tetapi juga perang yang terjadi antara suku, perang antara desa satu dengan desa lainnya, kampung satu dengan kampung lainnya, perang antara kelompok, perang antara anak sekolah dengan segala bentuk permasalahan, semuanya akibat dari masalah perut yang kosong, masalah tanah, masalah kekayaan, dengan segala bentuknya.
6.     Manusia saling membunuh dengan sadisnya; saat ini hanya karena masalah uang Rp 1000 saja orang sudah begitu tega saling membunuh. Pembunuhan multilasi, tanpa perasaan dan tanpa penyesalan telah begitu gampang dilaksanakan oleh seseorang terhadap teman akrabnya sendiri. Bahkan seorang anak dengan sadisnya membunuh orang tuanya hanya karena hal yang sepele (tidak diberi uang), hanya karena sebiji buah nangka saja seorang anak tega membunuh kakaknya, anak SD secara nekad telah menggantung dirinya karena belum membayar uang sekolah ataupun karena tidak dibelikan HP, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.
7.     Bencana terjadi dimana-mana; bencana sepertinya tidak putus-putusnya terjadi dimuka bumi ini. Dari Tsunami, angin puting beliung, topan George dll yang begitu banyak namanya. Gempa bumi, gunung-gunung meletus mengeluarkan kawahnya dan tanah longsor maupun banjir yang semuanya memakan banyak korban jiwa maupun materi yang tidak sedikit jumlahnya.
Tampaknya dunia/bumi sudah sangat panyah menompang segala macam bentuk kehidupan dan perbuatan manusia yang berada di atasnya yang diandaikan bumi sebagai seorang manusia yang sudah renta dan sedang kesakitan berjalan tertatih-tatih memikul beban yang sangat berat. Bahwa jaman Kaliyuga sudah semakin tua dan semakin dekat berakhirnya, masa kerja Brahma tampaknya sudah semakin dekat untuk menuju masa istirahat-Nya dan jika Brahma beristirahat, maka bersamaan dengan itu pula terjadilah suatu kehancuran dengan bumi. Bumi dengan segala isinya beserta planet-planet lainnya akan hancur lebur dan yang akhirnya menjadi musnah, keadaan inilah yang dikenal dengan istilah kiamat. Apakah tanda-tanda yang telah disebutkan di atas merupakan tanda-tanda akan datangnya sebuah peristiwa luar biasa (kiamat) dan merupakan akhirnya jaman Kaliyuga, oleh karena Brahman telah payah (capek) dan perlu beristirahat???
Apa yang kita harus lakukan jika demikian???????!.
Semua yang ada didunia baik itu merupakan benda mati maupun benda hidup akan menuju kamusnahannya juga. Bahwa yang ada di dunia ini adalah bersifat tidak kekal (sementara). Semua akan termakan oleh waktu, waktu jualah yang akan menentukan akan datangnya peristiwa yang maha dahsyat tersebut, k i a m a t ..........
Berputar/berjalannya waktu tidaklah dapat ditunda atau dibatalkan, dia akan berjalan terus sesuai dengan hukum yang ada (Rta). Demikian pula dengan jaman Kretayuga telah berlalu, kemudian diganti jaman Tretayuga demikian pula jaman Tretayuga berganti dengan jaman Dwaparayuga  selanjutnya berganti lagi ke jaman sekarang yaitu jaman Kaliyuga, seperti jaman-jaman lainnya, jaman Kaliyuga pun akan segera berakhir dan kiamat pun akan datang yang kemudian akan kembali ke jaman Tretayuga, suatu jaman ketenangan, kedamaian, kemakmuran.
Manusia hanya bisa menunggu kapan hari kiamat itu akan datang, akan tetapi tanda-tanda akan datangnya hari kiamat itu menunjukkan saatnya sudah semakin dekat. Oleh karena itu manusia atau mereka yang selama ini lebih banyak membaktikan dirinya terhadap duniawi, dunia materi dan telah lupa akan ajaran Dharma, mulailah kembali ke jalan Dharma, ke jalan kebaikan, yang merupakan jalan menuju Tuhan (Brahman).
Ajaran dalam kitab suci Weda, mengajarkan tentang tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu Moksa (Moksartham jagadhita ya caiti Dharma), adalah suatu kehidupan yang kekal dimana Atman yang berada pada setiap makhluk hidup/insan,  mencapai tujuannya bersatu dengan Brahman sebagai pusat atau sumber dari Atman itu sendiri. Atman merupakan bagian dari Brahman, Atman hanyalah bagian dari Brahman yang dititipkan pada manusia (pada jazad kasar) agar dapat hidup, tanpa Atman badan kasar tidak dapat berfungsi. Atman dan Brahman adalah satu (Brahman Atman Aikyam).
Bagawadgita Bab VI, sloka 30 menyatakan:
dia yang jiwanya terkonsentrasikan oleh yoga melihat Atman ada pada semua
insan dan semua insan ada pada Atman, dimana-mana ia melihat yang sama.
Sedangkan pada Bab V, sloka 26 berbunyi:
dia yang menguasai diri pribadinya mengontrol pikirannya, bebas dari nafsu
dan murka mengetahui Atman ada disekitar dirinya mencapai nirwana bersatu
dengan Brahman.
Untuk itu hindarilah apa yang disebut dengan punarbawa atau samsara atau reinkarnasi (kehidupan yang berulang ulang kembali ke dunia), yang memiliki makna sebagai kelahiran yang berulang kali adalah akibat dari perbuatan asubha karma (perbuatan buruk) yang lebih banyak dari pada perbuatan yang baik (subha karma). Keterikatan manusia akan materi akan mengakibatkan atman akan selalu terikat pada materi sehingga selalu ingin lahir kembali untuk menemui materi yang belum didapatkan akibat dari rantai kehidupannya yang telah terputus. Manusia diberi akal dan budhi untuk dapat mengatur tingkah lakunya agar tidak terikat oleh benda duniawi. Manusia diberi akal dan budi untuk dapat membedakan dan memilah dan memilih mana perbuatan/tindakan yang baik dan yang mana merupakan perbuatan yang tidak baik.
Bagawadgita Bab VIII, Sloka 14 menyatakan: 
dia yang terus-menerus mengenang Aku tidak memikirkan apa dan apalagi selalu menguasai dirinya sebagai yogi. Oh Parta, dengan mudah sampai kepada-Ku.
Sedangkan dalam Bab VIII sloka 15 menyatakan:
setelah sampai kepada-Ku, mereka yang berjiwa besar ini tidak lagi menjelma
ketempat penuh duka di dunia tak kekal ini dan mereka tiba pada kesempurnaan
tertinggi.
Berdasarkan sloka-sloka tersebut di atas, maka wajiblah manusia akan selalu ingat/eling kepada Brahman, eling bahwa manusia adalah hanyalah sebagai suatu ciptaan Brahman yang akan pergi dan musnah jika Brahman berkehendak. Dengan demikian sebelum kejadian itu menimpa engkau umat manusia lebih banyaklah berbuat baik, lebih banyaklah berdoa. Dalam Slokantara disebutkan bahwa
“agar engkau tidak keliru dalam melakukan kegiatan apapun, sebutlah Oum. Agar semua yang engkau kerjakan akan mendapatkan keselamatan dan pekerjaan tersebut akan direstui dan dilindungi Brahman”.
Om Santi, Santi, Santi, Om
Penulis: I.N. Widiartha Mahayasa, Ketua PHDI Kota Kupang
Telah disetujui dan diedit oleh Lembaga Dharma Duta Kab./Kota Kupang
a.n Ketua LDD Kab./Kota Kupang Waket/Bid. Dharmawacana
Pratama B.A.P. Samosir, S.Ag

SEMBAHYANG SEBAGAI KEBUTUHAN JIWA



Om Swastyastu,

Beberapa hari lalu kita umat Hindu merayakan hari raya galungan dan kuningan yaitu peringatan hari kemenangan dharma melawan adharma (kebaikan melawan kejahatan).

Semoga atas perlindunganNya kita semua dapat menjalankan kewajiban kita beribadah dengan baik sesuai dengan agama kita masing-masing. Tiada pernah usai kita syukuri karunia kasih Tuhan Yang Maha Esa kepada kita semua, kita dianugrahi kesehatan, rejeki, dan keberhasilan atas segala upaya yang telah kita lakukan. Dalam mewujudkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita sebagai umat Hindu melaksanakan persembahyangan sesuai dengan sastra agama kita.

Sembahyang disini memiliki pengertian yang cukup luas yaitu melakukan pemujaan serta penghormatan kepada Tuhan. Dalam sembahyang terkandung pula sebuah pengertian yaitu penyerahan diri kepada yang kita sembah yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Sembahyang merupakan wujud nyata kegiatan beragama dengan tujuan menghormat, memohon, bersyukur, menyerahkan diri, menyatukan diri, serta menghamba kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Yang Maha Suci dan Maha Pencipta.

Dalam Kitab Suci Weda, ilmu pengetahuan tentang sembahyang dijelaskan dalam kelompok ilmu yang disebut Upasana yang berarti pemujaan, kebhaktian dan juga pelayanan. Mendekatkan diri kepada Tuhan melalui sembahyang dengan landasan bhakti yoga dan upasana adalah jalan yang paling mudah dan paling umum dapat dilakukan oleh umat Hindu dengan satu keyakinan yang disembah itu “Ada”. Orang yang senantiasa merasa dekat dengan Tuhan akan memberi pengaruh kesucian kepada dirinya karena Tuhan bersifat Maha Suci.

Dalam Kitab Bhagavad Gita Bab XVIII sloka 65 disebutkan :

Pusatkankanlah pikiranmu kepadaKu, berbhakti kepadaKu, sembahlah Aku, sujudlah padaKu. Setelah melakukan disiplin pada dirimu sendiri dan aku  sebagai tujuanMu Engkau akan datang (mendekat) padaKu.

 Yang dimaksud Aku dalam sabda Tuhan tadi adalah Tuhan Yang Maha Kuasa itu sendiri dan yang dimaksud dengan kamu atau Engkau adalah umat ciptaanNya. Dengan demikian berbhakti pada Tuhan berarti seseorang akan dapat mendekatkan diri bahkan dapat menyatu padaNya. Dalam Bhagavad Gita Bab XVIII Sloka 55 :

 “Dengan jalan bhakti ia mengetahui Aku, siapapun bagaimanapun Aku sebenarnya ia seketika manunggal dengan aku.”



Jadi semakin jelas bahwa hanya dengan jalan bhakti itu sendiri seseorang akan dapat mendekatkan diri atau manunggal dengan Tuhan. Dan salah satu wujud pengamalan bhakti tersebut adalah sembahyang. Pada dasarnya dalam sembahyang terkandung dua hal yang sangat penting :

Yang pertama, sembahyang merupakan pernyataan atau wujud dari penyembah itu, yakinbahwa yang disembah itu ada, Ia Yang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya.

Yang kedua, pernyataan bahwa penyembah menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya. Maka dari kedua hal tadi dapat kita simpulkan isi sembahyang kita adalah berupa :

1.          Memuja dan memuji keagungan serta mensyukuri segala karunia Tuhan.

2.          Permohonan-permohonan seperti permohonan keselamatan, keberhasilan,kesejahteraan, panjang umur dan pengampunan atas segala dosa-dosa kita.

Yang perlu pula untuk kita pahami dalam persembahyangan adalah arti dari masing-masing sarana persembahyangan itu. Kita umat Hindu dalam melaksanakan persembahyangan tidak terlepas dari yang namanya sarana. Sarana seperti, bunga, daun, buah, air juga api, disamping doa-doa pujaan yang kita ucapkan. Sebagai contoh kita sembahyang memakai sarana bunga, tetapi apakah kita tahu penggunaan sarana bunga itu melambangkan apa? Bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci dalam memuja Tuhan. Penggunaan sarana persembahyangan yang kita laksanakan bukan tanpa dasar kitab suci yang jelas. Dalam Bhagavad Githa Sloka 26 disebutkan: “Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun, bunga, buah atau air, persembahan yang didasari oleh suatu cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci Aku terima”

Dari sabda Sri Krisna sebagai awatara Wisnu mengenai unsure-unsur pokok dari lambing persembahan itu lalu berkembanglah menjadi berbagai bentuk sesajen. Namun yang harus kita perhatikan adalah landasan utama atau yang paling mendasar dari setiap persembahan adalah kesucian hati dan cinta kasih. Karena persembahan atau yadnya yang dilaksanakan dengan didasari hati yang suci dan cinta kasih itulah yang diterima oleh Tuhan walaupun pada tingkat yang paling sederhana. Yadnya yang besar, mewah, tetapi jika dilandasi oleh ego pamer tiadalah berarti dan itu sia-sia belaka.

Setelah sembahyang dengan rutin kita laksanakan sebagai kewajiban umat beragama, pernahkah kita berpikir manfaat apa yang kita peroleh dari sembahyang tersebut? Disadari atau tidak manfaatnya luar biasa, dapat saya jelaskan sebagai berikut :

1.          Menumbuhkan Keikhlasan

Dengan melakukan sembahyang kita dididik untuk memiliki sifat ikhlas. Ikhlas pada hakikatnya merupakan kebutuhan jiwa manusia. Karena apapun yang ada pada diri kita tidak ada yang kekal, semua satu persatu atau bersama-sama akan pergi berpisah dengan diri kita. Kita harus ikhlas dan berjiwa besar menerima kenyataan-kenyataan yang memang rasanya pahit. Keikhlasan inilah yang akan dapat meringankan rasa penderitaan yang kita alami, karena kita telah paham benar akan kehendak Yang Maha Kuasa. Dan justru karena keikhlasan itulah kita tetap akan bersemangat dalam mewujudkan cita-cita. Hidup tanpa cita-cita tidak ada bedanya dnegan orang mati. Cita-cita tanpa kerja, sama dengan mimpi. Namun yang perlu diingat adalah, manusia boleh berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan. Apapun yang merupakan hasil kerja kita itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Keikhlasan disini bukan menyerah tanpa usaha. Nasib bukan berarti hasil berdiam diri. Nasib adalah kenyataan daripada kerja. Keikhlasan adalah meringankan penderitaan orang yang tidak memiliki keikhlasan dan selalu  gelisah dan gusar menerima kenyataan yang pahit. Dan melonjak-lonjak penuh keangkuhan atau kesombongan kalau kenyataan itu manis dan menyenangkan. Sembahyang yang tekun akan menimbulkan keyakinan diri bahwa Tuhan selalu dirasakan dekat padanya. Rasa ikhlas akan dapat meringankan penderitaan dan kegelisahan jiwa. Apapun kenyataan yang diterima tidak akan pernah menghentikan usaha untuk berkarma berdasarkan darma. Sembahyang yang melahirkan keikhlasan jiwa adalah sembahyang didasarkan pada sastra agama.

2.          Menentramkan Jiwa

Rasa aman dan jiwa yang tentram juga merupakan kebutuhan rohani pada setiap orang. Rasa aman akan dirasakan oleh orang yang selalu merasa dekat dengan Tuhan. Rasa aman itu timbul karena adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu akan melindungi diri umatnya. Jiwa yang tentram adalah jiwa tyang terlepas dari rasa cemas, gelisah, bingung, ragu-ragu dan kecewa. Nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai material hanya akan dapat ditumbuhkan oleh manusia yang berjiwa tentram. Manusia yang berjiwa tentram akan menjadi manusia-manusia yang produktif dan hidup bergairah. Hidup di dunia ini akan dirasakan sangat indah dan semarak sebagai tempat berkarma untuk meningkatkan diri. Keadaan yang tidak baik justru menjadi dorongan bagi manusia yang berjiwa tentram untuk berkarma dengan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ketentraman jiwa yang ditumbuhkan oleh ketekunan sembahyang akan dapat membantu kesehatan tubuh. Jiwa yang sehat modal awal dari membina kehidupan yang bahagia lahir dan batin.

3.          Mengatasi Perbudakan Materi

Manusia tidak dapat lepas dengan artha benda. Harta benda itu adalah alat manusia untuk mencapai kebahagiaan. Tapi harus diingat bahwa harta benda itu merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan. Jadi kiranya, manusia yang mengendalikan harta benda. Jangan sampai harta benda yang sebaliknya justru mengendalikan pikiran manusia dan membuat manusia berpikir bahwa harta benda merupakan nilai tertinggi dan tujuan utama dalam kehidupan. Manusia yang demikianlah yang akan diperbudak oleh materi. Namun dengan ketekunan sembahyang orang akan dapat melihat dengan terang. Harta benda itu harus dicari demi melaksanakan dharma. Untuk mencari sahabat, untuk membantu orang miskin, untuk berbhakti kepada orang tua, pada saudara, membantu orang sakit, dan menyemarakkan kehidupan beragama. Orang yang terang pandangannya karena ketekunan sembahyang akan aktif mencari harta benda, tetapi dia tetap tidak diperbudak oleh harta benda itu. Pendekatan dengan Tuhan melalui ketekunan persembahyangan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan karena dengan meningkatnya kemakmuran itulah dharma lebih dapat diwujudkan.

4.          Menumbuhkan Cinta Kasih

Rasa dekat dengan Tuhan yang ditumbuhkan oleh ketekunan sembahyang, akan meningkatkan rasa cinta kasih kepada sesama. Karena jiwatman yang ada pada semua makhluk adalah satu. Bersumber dari Tuhan. Manusia yang telah memiliki rasa dekat dengan Tuhan akan semakin tumbuh rasa kasihnya dengan sesama manusia. Rasa kasih itu menumbuhkan rasa kebersamaan untuk mengatasi berbagai kesukaran-kesuakaran hidup. Sembahyang yang tekun akan dapat menghilangkan rasa benci, marah, dendam, iri hati dan mementingkan diri sendiri. Karena membenci orang lain sama saja dengan membenci diri sendiri.

5.          Melestarikan Alam

         Dengan sembahyang kita dimotivasi untuk melestarikan bunga-bungaan, daun-daunan, pohon buahan-buahan yang kita butuhkan sebagai sarana persembahyangan. Dalam upacara persembahyangan juga membutuhkan air dari sumber-sumber mata air yang alami. Semua ini menimbulkan usaha untuk melestarikan sumber-sumber mata air tersebut. Manusia pun lewat ketekunan sembahyang akan tumbuh rasa cinta akan alam ciptaan Tuhan. Rasa cinta ala mini pun akan mendorong manusia untuk melestarikan alam lingkungan yang amat besar jasanya pada kehidupan manusia. Mencintai Tuhan berarti pula mencintai ciptaanNya, berupa: tumbuh-tumbuhan, binatang, sumber-sumber alam lainnya seperti: api, air, tanah, dan juga manusia.

6.          Memelihara Kesehatan

         Persembahyangan dilakukan dengan beberapa sikap yang dalam agama Hindu disebut asana. Sikap duduk ada beberapa bentuk misalnya padmasana. Yaitu, sikap sembahyang duduk seperti teratai. Asana ini dilakukan dengan menempatkan kaki kanan diatas paha kiri dan kaki kiri diatas paha kanan, tulang punggung sampai kepala menjadi stau garis tegak, sekujur tubuh dilemaskan. Kalau sikap ini secara tekun dilakukan setiap hari akan membawa manfaat kesehatan jasmani yang baik yaitu menjaga tulang punggung agar kuat dan tegak. Sikap padmasana juga menjaga keseimbangan jasmani dan rohani, sehingga jasmani dan rohani dapat dikendalikan. Juga membantu menyembuhkan penyakit rematik dikaki, paha dan punggung, dan juga melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh.  Bentuk lainnya dalah vajrasana. Vajrasana jika dilakukan dengan tekun akan menguatkan tulang punggung, pencernaan dalam perut dapat bekerja lebih sempurna, menguatkan otot-otot kaki, paha, membantu menyembuhkan penyakit di lutut, jari kaki dan paha atas, menghilangkan kembung perut karena kebanyakan angina, mengaktifkan otot, urat-urat halus, menguatkan fungsi kelenjar dan cakra-cakra yang ada dari bawah tulang ekor sampai ke ubun-ubun. Manfaat kesehatan ini baru dapat kita rasakan apabila dilakukan dengan penuh ketekunan dan berkesinambungan.

Demikianlah beberapa pemahaman mengenai sembahyang, sarana sembahyang dan manfaat sembahyang. Dengan ketulusan hati kita melaksanakan kewajiban kita sebagai umat beragama yang meyakini adanya Tuhan sebagai Maha Pencipta. Jadikan sembahyang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai kebutuhan hidup kita sehari-hari. Niscaya keikhlasan hati, ketentraman jiwa, kebijaksanaan, cinta kasih, kedamaian, dan kesejahteraan senantiasa menjadi milik kita.

”Om Santih, Santih, Santih Om”



Penulis: Regina Sherly Pentau, S.Ag. Kepala Sekolah TK Saraswati Kupang,  aktif memberikan dharmawacana

Selasa, 14 Januari 2014

SOSIALISASI HASIL RAPAT KOORDINASI ORMAS HINDU SELURUH INDONESIA



Kamis, 02 Januari 2014

Alamat PHDI se-NTT

Berikut ini adalah daftar Alamat Pengurus PHDI di Seluruh Nusa Tenggara Timur.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites