Melasti Tawur Kasanga

Meningkatkan bhakti, menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa, dan mencegah kerusakan alam

Ngiring Prawatek Dewata

Melakukan perjalanan suci menuju sumber air seperti laut atau mata air lainnya yang memiliki nilai sakral

Anganyutaken Laraning Jagat

Membangkitkan spiritualitas untuk berusaha menghilangkan kesengsaraan hidup di bumi secara ragawi dan rohani

Anganyutaken Papa Klesa

Membinasakan kepapaan yang disebabkan oleh oleh awidya, asmita, raga, dwesa dan abhiniwesa

Anganyuntaken Letuhing Bhuwana

Menjaga kelestarian alam semesta dengan membersihkan pencemaran pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa

Tampilkan postingan dengan label dharma wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dharma wacana. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

BELAJAR DARI KEHIDUPAN ANGSA

Om Swastyastu,
Pada saat ini ijinkan saya menyampaikan dharmawacana dengan  judul “Belajar Dari  Kehidupan Angsa” Terlebih dahulu mari kita  berdoa, tundukkan kepala dan hati kita  memohon bimbingan dari tuntunan dari Sang Hyang Widhi Wasa.

Om Asato ma sad gamaya
Tamaso ma jyotir gamaya
Mretyor ma amritham gamaya
Om loka samasta sukhino bhawantu
(Ya Hyang Widhi!Bimbinglah kami dari ketidakbenaran menuju jalan yang benar

Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju cahayaMu  yang terang

Bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang kekal

Ya Hyang Widhi, semoga semua mahluk hidup berbahagia)

Umat sedharma yang berbahagia. . . . .

Nasihat orang bijak mengatakan bahwa sekolah boleh berakhir, tetapi janganlah berhenti belajar. Sebab alam ini yang maha luas memberikan  pelajaran yang begitu banyak, asalkan kita  mau melihat lebih dalam, merenungkan dan mengambil mutiara-mutiara yang ada di dalamnya. Lihatlah seorang  Gede Prama yang menasihatkan kita agar belajar  dari air, lalu Andrias Harefa menggagas agar kita belajar dari Matahari . Kemudian Stephen Covey mengajarkan  kita belajar dari pertanian, Sarasamuscaya sloka 53 menuturkan agar kita belajar kepada lembu tentang keseimbangan hidup dan kali ini saya mencoba menyampaikan sebuah ilmu dimana kita bisa belajar dari kehidupan hewan yaitu angsa.

Angsa  dalam bahasa sanskerta disebut dengan “hamsa”1.  Menurut Sayana kata hamsa berasal dari kata “han” yang artinya pergi menuju keabadian2. Angsa dalam  ajaran Hindu adalah hewan yang dihormati dan disucikan. Karena kesuciannya angsa dipilih oleh Dewi Saraswati sebagai wahanaNya. Kemudian dalam Dewata Nawa Sangha ,dewa Brahma sebagai penguasa arah selatan juga menggunakan angsa sebagai wahanaNya.

Di bagian belakang  Padmasana tepatnya di atas burung Garuda. Wujud Angsa   digambarkan dengan kedua sayapnya yang mengepak-ngepak.Apa makna sayap yang mengepak-ngepak tersebut? menurut lontar “Indik Tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbol dari pada ardha candra, windu, dan nada. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra, kemudian kepala angsa menggambarkan windu, dan mulut  angsa menggambarkan nada.

Dalam Upanisad di sebutkan juga bahwa: “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu laksana burung angsa yang mengepak-ngepakkan sayapnya”. Jadi  lukisan angsa pada Padmasana adalah simbol manusia yang ingin kembali kepada Sang Hyang Widhi, yang juga disebutkan amoring acintiya.

Selain suci, angsa juga melambangkan kebijaksanaan, dia mampu berenang tanpa menyebabkan air keruh walaupun kakinya mengayuh badannya dengan begitu cepat.Kemudian angsa dapat membedakan mana makanan dan mana lumpur yang harus dibuang. Angsa adalah  hewan  yang cerdik, tajam pendengarannya,  penuh setia kawan dan selalu hidup harmonis dengan sesamanya.

Umat sedharma yang saya hormati. . . . .

Bagi yang tinggal di negara empat musim seperti Belanda dan Amerika pada saat musim gugur akan terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf “V”(baca ve). Dari formasi tersebut ada  beberapa pelajaran yang dapat dipelajari dan dipraktekkan dalam kehidupan ini  diantaranya:

Pelajaran pertama
 Ketika masing-masing burung angsa mengepakkan sayapnya, ia akan memberikan daya dukung bagi angsa yang terbang tepat di belakangnya. Sehingga angsa yang terbang di belakangnya tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”(ve), seluruh kawanan angsa dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh jika dibandingkan kalau  setiap angsa terbang sendirian. Bahkan pada masa migrasinya, angsa-angsa liar bahkan  terbang melebihi gunung-gunung tertinggi di dunia, dan mampu menempuh jarak sampai 1.000 Km dalam sehari (seorang ilmuan telah membuktikan). 

Pertanyaanya, mengapa angsa dapat terbang sehebat itu? Jawabannya ternyata angsa adalah unggas yang memiliki hati lebih besar di bandingkan hewan sejenisnya seperti ayam, bebek dan yang lainnya. Besarnya hati yang dimiliki angsa,  dapat menyuplai darah segar dengan baik, walapun dalam ketinggian yang ekstrim dimana oksigen saat itu sangat minim.

Mengacu pada fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa dalam  kehidupan bermasyarakat ('menyamabraya'), ketika kita bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling berbagi dalam komunitas di antara kita, maka apa yang kita ingini akan tercapai dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena kita menjalaninya dengan saling mendorong,saling memotivasi dan saling mendukung satu dengan yang lain. Pekerjaan sebesar apapun kalau kita lakukan secara bersama-sama niscaya akan lebih mudah terlaksana.

Angsa putih selalu bergerak atau terbang secara bersama-sama dalam jumlah yang banyak. 
“Hamso yatha ganam” angsa putih menghendaki bergerak dalam kelompok yang banyak.(Rgveda IX.32.3)3.  
Dalam kebersamaan mencapai tujuan yang utama.

Pelajaran kedua
Jika seekor angsa keluar dari formasi rombongannya, ia akan merasa berat dan sulit terbang sendirian. Lalu  dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan angsa di depannya.

Pelajaran yang dapat kita peroleh dari fakta ini, adalah: kalau kita tinggal dalam formasi atau lingkungan dengan saudara-saudara kita yang telah berjalan di depan,yang telah maju,yang banyak pengalaman dan lain sebagainya. Maka seyogyanya kita akan mau menerima bantuan dari orang lain dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Sebab kita jauh lebih sulit melakukan sesuatu seorang diri dari pada melakukannya secara bersama-sama atau bergotong royong. Bhagawad Gita III.114 berpesan “Dengan saling memberi engkau akan memperoleh  kebajikan utama” Lebih lanjut Mahesh Yogi seorang guru spiritual berpesan ”bila ingin menerima,kau harus memberi demikianlah hukum alam”. Kesimpulannya menerima dan memberi adalah hukum alamiah dimuka bumi ini.

Pelajaran ketiga
Ketika angsa pemimpin lelah, ia akan  memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.

Pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan bersama adalah: dalam melaksanakan pekerjaan besar dan sulit seperti odalan,ngaben dll, perlu adanya pendelegasian wewenang. Tujuan  apa? : 1)agar bawahan mampu melakukan pekerjaan dengan baik, 2)pendelegasian menciptakan kerja tim dan 3)pendelegasian adalah salah satu fungsi dari pembinaan. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta, atau sumber daya lainnya.Setiap orang ada ahlinya dan setiap ahli ada orangya demikian pesan para bijak.

Pelajaran  keempat
Angsa-angsa yang terbang dalam formasi “V” mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

Pelajaran yang dapat dipetik  adalah: kita harus memastikan bahwa suara yang kita berikan akan memberi kekuatan, memotivasi bukan melemahkan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai akan menjadi lebih besar dan maksimal. Begitu juga dalam sebuah organisasi banjar misalnya akan terjadi hubungan yang harmonis bila ada dukungan dari anggota sehingga keberlangsungan organisasi dapat di jaga.

Pelajaran  kelima
Ketika seekor angsa sakit atau terluka, maka dua angsa yang lain akan ikut keluar dari formasi dan terbang turun untuk membantu dan melindungi angsa yang sedang sakit atau kelelahan. Mereka akan tinggal dengan angsa itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi.

Pelajaran yang dapat kita peroleh dari fakta ini adalah: kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik adanya. Baik suka maupun  dukha. Senang maupun sedih. Inilah yang disebut dengan sahabat sejati.Niti Sataka sloka 65 dijelaskan definisi seorang sahabat sejati yaitu:
  “dia yang menghentikan kita dari perbuatan dosa dan mengajak berbuat baik serta dalam kesulitan mereka tidak meninggalkan dan selalu siap menolong”5.
Filosofi menolong adalah saat ada orang lain yang menolong Anda jangan langsung membalasnya kepada orang tersebut, melainkan tolonglah, bantulah  orang lain dengan demikian, kebaikan tidak akan berhenti pada dua orang saja,tetapi akan terus berlanjut dan menyebar ke lebih banyak orang.

Umat sedharma yang berbahagia…..
Kesimpulannya ada beberapa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kehidupan hewan yang bernama angsa antara lain:
angsa mengajarkan nilai kesucian, nilai kebijaksanaan, nilai kebersamaan, nilai kerjasama, pendelegasian wewenang  dan saling tolong menolong antar sesama. Kehidupan ini hendaknya diusahakan dengan kebaikan jangan sampai hidup diisi dengan nrsansa(baca-nrcangsa)6 yaitu hidup yang mementingkan dirisendiri atau egois.

Demikianlah dharmawacana kali ini, semoga ada manfaatnya. Saya akhiri dengan sebuah pantun:

Ke Bekasi beli durian
Beli map di Pancoran
Trimakasih atas perhatian
Mohon maaf atas kekurangan

Om Shanti Shanti Shanti Om.
  
Catatan Belakang :
  1. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh  I Made Titib, Paramita Tahun1998 hal 635
  2. Purana Sumber Ajaran Hindu Komprehensip oleh I Made Titib,Pustaka Mitra Jaya Tahun2003 hal 250.
  3. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh  I Made Titib, Paramita Tahun1998 hal 633
  4. Bhagawad Gita (Pancamo Veda) oleh G. Puja MA,SH, Paramita Tahun 2005 hal 85.
  5. Niti Sataka terjemahan dan penjelasan Dr. Somvir hal. 42.
  6. Sarasamuccaya  oleh I Nyoman Kajeng ,dkk,Paramita Tahun 2003 hal 57.
  • Naskah Lomba Penyuluh Berprestasi Tk. Nasional Di Hotel Kartika Chandra Jakarta pada tanggal 22-24 Juli 2013.
  • Penulis ( Wayan Alit Sudarma,S.Ag.) adalah Penyuluh Agama Hindu pada Kemenag Provinsi Nusa Tenggara Timur. Way_sudarma@yahoo.co.id


Minggu, 17 November 2013

KAJIAN SINGKAT TENTANG MANTRA


Pendahuluan
Dalam melaksanakan puja bhakti kepada Brahman, umat Hindu  diberikan kebebasan untuk dapat mewujudkan bentuk Śraddhā tersebut. Secara umum bentuk Bhakti  umat Hindu dapat dilakukan dengan menggunakan Mantra, Yantra, Tantra, Yajña, dan Yoga.

MANTRA adalah doa-doa yang harus diucapkan oleh umat kebanyakan, pinandita, pandita sesuai dengan tingkatannya.
YANTRA adalah alat atau simbol-simbol keagamaan yang diyakini mempunyai kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian.
TANTRA adalah kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ditetapkan dalam kitab suci.
YAJÑA yaitu pengabdian yang tulus ikhlas atas dasar kesadaran untuk dipersembahkan sehingga dapat meningkatkan kesucian.
YOGA artinya mengendalikan gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk dapat berhubungan dengan Brahman, yang dapat dilakukan melalui Astangga Yoga (yama, niyama, asana, pranayama, prathyahara, dharana, dhyana, dan samadhi)
Mantra
Mantra berasal dari suku kata Man (Manana) dan kata Tra (Trana) yang berarti pembebasan dari ikatan samsara atau dunia phenomena ini. Kombinasi Man dan Tra itulah disebut Mantra yang berarti dapat memanggil datang (Amantrana). Mantra merupakan sebuah kata atau kombinasi beberapa buah kata yang sangat kuat atau ampuh, yang didengar oleh orang bijak dan dapat membawa seseorang yang mengucapkannya melintasi lautan kelahiran kembali, inilah arti mantra yang tertingi.
Jenis-jenis Mantra
Berdasarkan sumbernya, mantra dibedakan menjadi
  1. Vedik mantra,  
  2. Tantrika mantra, dan
  3. Puraṇik mantra
 Berdasarkan sifatnya, mantra dibedakan:

  1. Śāttvika mantra (mantra yang diucapkan guna untuk pencerahan, sinar, kebijaksanaan, kasih sayang Tuhan tertinggi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan), 
  2. Rājasika mantra (mantra yang diucapka guna kemakmuran duniawi serta kesejahteraan anak-cucu), dan 
  3. Tāmasika mantra (mantra yang diucapkan guna mendamaikan roh-roh jahat, untuk menghancurkan atau menyengsarakan orang lain, ataupun perbuatan-perbuatan kejam lainnya/Vama marga/Ilmu Hitam
Kwalitas Mantra
Produktif, yaitu dipakai dalam rangka meningkatkan kesadaran illahi, semata-mata untuk memuliakan kebesaran Brahman dengan segala prabawaNya, sehingga muncul perasaan welas asih, cinta, dan pengabdian, terbebas dari ego kepemilikan dan nafsu, dipakai sebagai media untuk menyebrangkan sang jiwa melewati lautan samsara/penderitaan kelahiran-kematian.
Protektif, mantra yang dipakai untuk kelangsungan hidup secara duniawi, memenuhi keinginan (kama), memperoleh artha, keturunan, kemuliaan, kemewahan, kesehatan, kewibawaan, kedudukan, dan sebagainya.
Destruktif, kualitas mantra yang dipakai untuk kegiatan menundukkan lawan, menghancurkan penyakit, mencelakakan orang lain, termasuk ilmu hitam.

Istilah lain:
MANTRA: yang berupa sebuah daya pemikiran yang diberikan dalam bentuk beberapa suku kata atau kata, guna keperluan meditasi dari seorang guru (Mantra Diksa)  

STOTRA: doa-doa kepada para devata. Stotra ada yang bersifat umum dan bersifat Khusus. Stotra bersifat umum, dipergunakan untuk kepentingan umum yang harus datang dari Tuhan sesuai dengan kehendakNya,  sedangkan Stotra yang bersifat khusus adalah doa-doa dari seoarang pribadi kepada Tuhan untuk memenuhi beberapa keinginan khususnya,  

KĀVACA MANTRA: mantra yang dipergunakan untuk benteng atau perlindungan dari berbagai rintangan.

Dalam kitab Nirukta Vedangga, mantra dapat dibagi menjadi 3 sesuai dengan tingkat kesukarannya, yaitu:
  1.  Paroksa Mantra, yaitu mantra yang memiliki tingkat kesukaran yang paling tinggi. Hal ini disebabkan mantra jenis ini hanya dapat dijangkau arti dan maknanya kalau diwahyukan oleh Tuhan. Tanpa sabda Tuhan mantra ini tidak mungkin dapat dipahami. 
  2. Adyatmika Mantra, yaitu mantra yang memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah. Mantra ini dapat dicapai maknanya melalui proses pensucian diri. Orang yang rohaninya masih kotor, tidak mungkin dapat memahami arti dan fungsi jenis mantra ini. 
  3.  Pratyāksa Mantra, yaitu mantra yang lebih mudah dipahami. Untuk menjangkau makna mantra ini dapat hanya mengandalkan ketajaman pikiran dan indriya.
Cara mengucapkan Mantra. Mantra dapat diucapkan sampai terdengar oleh orang lain (Vāikari), berbisik-bisik, bibir bergerak, namun suara tidak terdengar (Upaṁsu), dan terucap hanya di dalam hati , mulut tertutup rapat (Mānasika)

Syarat mantra agar siddhi adalah Śraddhā; Bhakti; Sadhāna, Chānda;Kriya.
 
Penggunaan Mantra
Menurut waktu penggunaannya, yaitu:
1.     Nitya Karma Puja:Saṇdhyā Vandanā atau Saṇdhyŏpāsanā, Japa atau Namasmaranaṁ
2.     Naimitika Karma Puja.

Seseorang yang ingin belajar spiritual, minimal harus mengetahui lima Mantra, karena angka lima dipakai sebagai media penciptaan oleh Tuhan. Dasar manusia itu disebut lima kekuatan Panca maha butha. Oleh karena itu,  setiap manusia yang ingin tahu sumbernya sendiri, harus menguasai lima Mantra, yang berfungsi sebagai pembuka semua nadi-nadi dalam tubuh kita. Mantra tersebut adala
  1. Mantram Penyucian
OM APAWITRA PAWITROWA
SARWANG WASTANG GATO’PIWA
YAHASMARIT PUNDARI KAKSAH
SABAHYA ABYANTARAH SUCIH
(Ya Tuhan, hamba memohon kepadaMu, apa yang mempengaruhi kehidupan hamba, yang telah hamba bersihkan maupun yang tidak mampu hamba bersihkan, semoga sekala niskala, rohani dan duniawi, Engkau berkenan menyucikan/membersihkan.

OM SHRI WISNU, SHRI WISNU, SHRI WISNU
(Hamba memujaMu dalam wujud Wisnu sebagai penguasa seluruh alam semesta beserta isinya)

OM MANGGALAM BHAGAWAN WISNU, 
MANGGALAM  MADU SUDDHANAM,
MANGGALAM HRSI KESOYAM,  
MANGGALAM YA TAN HANOHARIH
(Ya Tuhan Engkau hamba puja sebagai Wisnu yang turun memberikan hamba penyucian, Semoga dengan penyucian itu Engkau memberikan kehidupan yang manis bagaikan madu, Engkau penguasa dan pengendali indria,
Semoga Engkau berkenan mengendalikan semua indria hamba,Semoga Engkau juga berkenan menyucikan pikiran hamba yang tidak terjangkau oleh kekuatan pikiran hamba)

   2.   Mantra Membuka  Diri

Om Jung Ang Sang Bhur Bwah Swah Kartike Namaha

   3.   Mantra Nglinggihin

Om Twam Agni Yadnyanam Hotah
Wiswasam Hitah,
Dewabir Manusa Jane
(Ya Tuhan Engkau adalah Pendorong semua Karma CiptaanMu
Semoga Engkau dorong hamba ke jalan yang benar, ke jalan
Yang sesuai dengan rencanaMu, semoga Engkau juga berkenan
melinggih pada hati nurani hamba

   4.   Maha Mantra

Mantra ke empat yaitu dengan Maha Mantra yang disebut dg Gayatri
Setiap Dewa mempunyai Gayatri
Silahkan pilih salah satu sesuai hatinurani

   5.   Mantra dalam Japa

Mantra ini juga silahkan pilih salah satu dari Mantra Ista Dewata
Misalnya :Om Namah Sivaya atau Om Gam Ganapataye namah, dll. Sebaiknya menggunakan ganitri yang berjumlah 108 butir.

Mantra Penutup

Om Swah Bwah Bhur Sang Ang Jung Namaha

Penutup
Makna kata Mantra adalah alat untuk mengikatkan pikiran kepada obyek yang dipuja. Mantra berfungsi sebagai Kavaca yaitu baju gaib yang melindungi tubuh, dan pikiran kita dari kekuatan-kekuatan negatif  atau jahat, dan juga dapat berfungsi sebagai Panjara yaitu membentengi keluarga dari berbagai halangan atau kejahatan. Dalam mengucapkan Mantra hendaknya dipahami arti dan makna dari sebuah mantra yang dirapalkan, serta diucapkan dengan penuh kesujudan, kekusukkan dan kesungguhan yang dilandasi oleh kesucian hati. Rapalkanlah  mantra sesering mungkin.

By : IB Putrawan (03808030101) Pengurus PHDI Prov. NTT bidang Agama

Sabtu, 09 November 2013

Keutamaan Menahan Marah (Krodha) Menurut Bhagawad Gita

Tri vidham narakasyedam
dvaran nasanam atmanah,
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet (Bhagawad Gita.XVI.21)
[Ada tiga pintu gerbang menuju neraka (jurang kehancuran diri) yaitu kama (hawa nafsu)
Krodha (kemarahan) dan lobha (sifat rakus), oleh karena itu ketiganya harus ditinggalkan]

Latar belakang
Kemarahan menjadi endemis sekarang ini, kemarahan ada dalam buku-buku,  film, di televisi, di sekolah, di rumah bahkan di ruang sidang terhormat sekalipun. Kemarahan ada di sekitar kita.Waspadalah!

Orang mudah sekali marah, hanya karena masalah-masalah yang sepele saja.Orang tidak dapat menahan emosinya dan meluapkan kemarahannya dalam berbagai bentuk yang negatif.

Melihat realita  yang ada di tengah-tengah kehidupan kita seperti itu,  sangat diperlukan sekali upaya-upaya mengendalikan amarah sebagai penyebab pertama malapetaka kehidupan. Tulisan ini membahas tentang beberapa hal antara lain : pengertian marah, tingkatan marah, ciri-ciri marah, penyebab marah, bahaya marah, keutamaan menahan marah menurut Bhagawad Gita dan terapi sederhana mengatasi marah.

Pengertian marah
Dalam bahasa Sanskerta marah disebut krodha sesuai dengan penjelasan sloka Bhagawad Gita  XVI.21 di atas. Kemudian dalam Manawa Dharmasastra  kata krodha diterjemahkan sebagai kemarahan (Pudja,2010:7).
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Purwanto,2006), marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan yang di rasakan sebagai ancaman. Selanjutnya menurut Wayne M. Dyer (1997), marah adalah suatu reaksi terhadap frustasi yang terlatih dimana seseorang  berbuat dengan cara-cara yang sesungguhnya ia tidak menginginkannya. Seseorang yang dalam keadaan  marah tidak dapat mengendalikan perbuatannya.

Berdasarkan teori-teori para ahli di atas maka dapat disampaikan bahwa kemarahan adalah suatu reaksi emosional yang terlatih atau dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, dimana sebenarnya ragam emosi yang kasar itu dapat disingkirkan atau sekurang-kurangnya dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan berbagai akibat atau bahaya yang fatal,yang akan disesali sepanjang hidupnya.

Tingkatan marah
Ada tiga kelompok pemarah.Pengelompokan mereka itu berdasarkan jenis atau sifat marahnya.

Kelompok pertama, bagaikan kelompok pemahat, membuat garis di atas batu.Garis yang mereka buat hampir abadi. Ratusan tahun kemudian pun, garis itu tetap ada. Kelompok ini selalu menyimpan dendam. Sekali membenci Anda, ia akan selalu membenci Anda. Api amarah dalam diri mereka tidak pernah padam.
Kelompok kedua, bagaikan membuat garis di atas kertas. Garis yang mereka buat tidak permanen, masih bisa di hapus. Ada yang membuat garis dengan pensil, sehingga mudah dihapus. Ada pula yang membuat garis dengan pena, sehingga agak sulit di hapus. Bahkan kadang kala kita harus menggunakan lapisan “tipp-ex” untuk menutupi garis yang telah kita buat. Kelompok ini pun menyimpan rasa dendam, namun hanya untuk beberapa saat.

Kelompok ketiga, adalah kelompok mereka yang sadar, yang tengah menggunakan “amarah” sebagai alat, sebagai sarana untuk menyadarkan kita. Amarah mereka ibarat garis di atas air. Bagaimana Anda bisa membuat garis di atas air? Mereka pun bisa nampak marah, namun amarah mereka tidak pernah berubah menjadi rasa dendam (Krishna,2001).

Ciri-ciri marah 
Ciri-ciri marah yang terjadi pada seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain sebagai berikut :
  1. Aspek biologis, ditandai dengan denyut jantung meningkat,wajah merah, reflex cepat,nada suara meninggi dan tangan mengepal. Hal ini disebabkan energi yang dikeluarkan saat marah bertambah,
  2. Aspek emosional, seseorang yang sedang marah merasa tidak  nyaman, jengkel, frustasi, dendam, ingin berkelahi, sakit hati dan menuntut,
  3. Aspek sosial, dimana emosi marah sering merangsang kemarahan dari orang lain dan menimbulkan penolakan dari orang lain. Pengalaman marah dapat mengganggu hubungan interpersonal. Amarah bisa menghancurkan suatu tatanan masyarakat,
  4. Aspek spiritual, amarah menghanguskan jiwa dan jiwa yang hangus akan mati terhadap kasih, terhadap pengampunan dan di atas segalanya. Jika api amarah masih bercokol, spiritualitas apa yang dapat kita bicarakan? keagamaan apa yang dapat kita bicarakan?
Penyebab marah
Secara garis besar penyebab marah itu terdiri dari faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik antara lain disebabkan karena kelelahan yang berlebihan, zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah,misalnya,jika otak kurang mendapat zat asam,orang tersebut akan lebih mudah marah . Dan pada sebagaian wanita yang sedang menstruasi juga lebih mudah marah.

Faktor psikis ini erat kaitannya dengan kepribadian seseorang seperti rasa rendah diri (minderwaar digheld complex), yaitu menilai dirinya sendiri lebih rendah dari yang sebenarnya. Kemudian sifat sombong (superiority compelx),yaitu menilai dirinya sendiri lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Jadi merupakan kebalikan dari sifat rasa rendah diri.Selanjutnya adalah sifat egois atau terlalu mementingkan diri sendiri, yang menilai dirinya sangat penting melebihi kenyataan. Orang yang bersifat egois akan mudah marah karena selalu terbentur pada pergaulan sosial  yang bersifat apatis (masa bodoh), sehingga orang yang egois tersebut merasa tidak diperlukan dengan semestinya dalam pergaulan sosial. Mereka biasanya diselimuti rasa marah yang berkepanjangan.

Bahaya marah
Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stress lainnya dengan efek yang nyata pada fisik Anda.
        
Para ahli berpendapat bahwa mereka yang sering marah mempunyai risiko serangan jantung yang lebih tinggi, stroke, depresi, maag, insomnia dan kelelahan. Amarah juga berakibat hilangnya nafsu makan, tergangunya pencernaan serta terganggunya otot dan syaraf selama berjam-jam atau bahkan  berhari-hari. 
Menurut para periset di AS, bahwa semakin sering Anda marah, semakin memperpendek usia Anda. Kemarahan dan emosi tinggi lainnya dapat memicu irama jantung mematikan.Selanjutnya hasil penelitian Harvard Medical School menjelaskan bahwa marah menyebabkan serangan jantung dan stroke.Orang yang paling mudah marah berpeluang tiga kali lipat untuk memiliki penyakit jantung. Marah-marah pada usia muda merupakan prediktor yang baik terhadap serangan jantung di hari tua. Semakin tinggi marahnya, semakin tinggi risikonya. Berhati-hatilah! Intinya sifat marah sangat merugikan bagi kesehatan kita.
        
Amarah yang lebih gamblang dikemukakan oleh Charles W. Sheed (dalam Purwanto, 2006) "tiga menit marah akan melemahkan kekuatan dan lebih cepat dari pada delapan jam bekerja" (three minutes of anger will sop your strength quicker than eight hour of work). Hal ini terjadi  karena marah membebankan ketegangan luar biasa pada tubuh seseorang. Ketika seseorang marah, darahnya membanjiri otot-otot utama pada tangan dan kaki sehingga ia memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada biasanya. Tetapi sebaliknya, persediaan darah pada otaknya banyak berkurang sehingga ia dapat lupa diri dan melakukan hal-hal yang destruktif. Perbuatan tersebut kemudian disesalinya setelah ia sadar diri atau tenang kembali.

Marah tumbuh dari gejolak darah dalam hati, marah menyeret seseorang mengumpat orang lain, bahkan melecehkan kehormatan, merampas harta orang lain, dan mengakibatkan pertumpahan darah.

Bhagawad Gita II.63 menjelaskan betapa bahayanya bila amarah berkecamuk  dalam diri seseorang.  Demikian pesannya.

Krodhadbhavati sammohah,sammohat smrti vibhramah,smrti bhramsad buddhi naso, buddhi nasat pranasyati
[dari amarah timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan akan menghancurkan penalaran, dari kehancuran penalaran membawanya pada kemusnahan].
Pada saat marah akal seolah-olah tertutup,dan kita menjadi bingung, pada saat bingung inilah kita tidak mampu mengendalikan diri.

Keutamaan menahan marah      
Mengingat betapa buruknya sifat marah, Bhagawad Gita memerintahkan agar kita meredamnya atau mengendalikannya.Berikut ini sloka-sloka dari Bhagawad Gita (BG) yang menjelaskan tentang keutamaan menahan marah.

1.  Pengendalian marah mempunyai manfaat memelihara kemampuan berpikir manusia dan mengambil keputusan yang benar dan bijaksana.

Duhkhesv anudvigna manah sukhesu vigata sprhah, vita raga bhaya krodhah sthita dhir munir ucyate (BG.II.56), artinya orang yang tidak sedih dikala duka dan tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu dan amarah, ia disebut orang yang bijaksana
2.     Dengan mengendalikana amarah bisa memperoleh kebahagiaan sebagai seorang yogi.
Saknotihaiva yah sodhum prak sarira vimoksanat, kama krodhodbhavam vegam sa yuktah sa sukhi narah (BG.V.23), artinya dia yang mampu menahan kecendrungan keinginan dan amarah di dunia ini sebelum meninggal jasad raganya ia adalah seorang yogi, dia adalah orang yang bahagia. Seorang yogi itu seperti lampu di tempat tidak berangin nyalanya tidak mengerdip, demikian pula dalam mengendalikan amarah tidak tergoyahkan.
3.     Dapat mengendalikan amarah, merupakan harta yang tidak ternilai dari seseorang yang dilahirkan dasi sifat-sifat Dewata .

Ahimsa  satyam akrodhas tyagah santir apaisunam,daya bhutesv aloluptvam mardavam hrir acapalam (BG.XVI.2), artinya Tidak menyakiti, bebas dari nafsu amarah tenang,tidak memfitnah, kasih sayang pada semua mahluk, lemah lembut, sopan dan berketetapan hati.  Sloka berikutnya ”Tejah ksama dhrtih saucam adroho na timanita, bhavanti sampadam daivim abhijatasya bharata”(BG.XVI.3) artinya suka memaafkan, teguh iman, semua ini adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat dewata,

4.     Yang mampu mengendalikan amarah layak mencapai Brahman.

Ahamkaram  balam darpam kamam krodham  parigraham,vimucya nirmamah santo brahma bhuyaya kalpate (BG.XVIII.53), artinyasetelah membuang jauh-jauh keakuan, kekerasan, nafsu amarah dan penuh kedamaian, ia layak mencapai Brahman.
Menjadi manusia bijaksana, seorang yogi, kelahiran Dewata dan manusia yang layak mencapai Brahman adalah  keutamaan dari menahan marah atau mengendalikannya . Hal ini perlu kita jadikan bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.

Terapi sederhana
Hal paling sederhana yang dapat Anda lakukan bila sedang marah adalah berjalan sambil mengucapkan doa (baca mantra). Kedengarannya menyederhanakan  masalah, tetapi cobalah pergi berjalan sambil mengucapkan nama suci Tuhan/Hyang Widhi di dalam hati. Dan Anda akan menemukan bahwa hubungan antara irama nafas Anda, irama langkah kaki Anda dan irama mantra mempunyai pengaruh besar pada kesadaran Anda.

Barangkali Anda tidak selalu mempunyai kesempatan untuk berjalan, tetapi Anda dapat mengucapkan mantra setiap saat. Anda bisa menyebutkan mantra Gayatri, Om, Rama, Krishna, Om Namah Siwaya atau yang lainnya secara berulang-ulang dalam hati agar amarah Anda segera reda.

Adalah Thomas Jefferson (dalam Easwaran, 2001) pernah mengatakan “Bila Anda marah, ulangi mantra sepuluh kali sebelum Anda berbicara, bila Anda sangat marah , ulangi seratus kali,dan bila Anda sangat benci, ulangilah selama mungkin”  inilah waktu untuk berdoa kepada Tuhan/Hyang Widhi.

Sementara Maxwell Maltz, menyarankan tiga cara mencegah kemarahan antara lain: pandanglah cermin dan lihatlah wajah Anda yang sedang marah, hilangkan energi yang meledak dengan aktifitas yang positif, misalnya, membaca, bercocok tanam, menyanyi dan olahraga.

Saran berikutnya adalah lakukanlah relaksasi sebagai salah satu terapi mengendalikan amarah.Relaksasi dapat menurunkan ketegangan. Setelah merasa rilek lakukanlah meditasi 10-15 menit  maka Anda akan memasuki kehidupan baru penuh kedamaian.

Terapi yang penulis sebutkan di atas seperti berdoa sambil berjalan, melihat cermin, melakukan aktifitas yang positif , relaksasi dan meditasi adalah terapi yang  mudah dan murah untuk dilakukan oleh siapa pun juga. Anda perlu mencobanya, semoga berhasil.

Penutup
Potensi kemarahan sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir. Sebelum bayi belajar bicara, emosi seperti gembira, takut, malu, heran, dan marah sudah ada dalam dirinya. Marah adalah reaksi terhadap sesuatu yang sesungguhnya kita tidak menginginkannya. Sifat marah merugikan diri sendiri baik dari segi biologis, emosional, sosial, spiritual dan kesehatan. Bahkan Bhagawad Gita XVI.21 menjelaskan bahwa kemarahan (krodha) adalah pintu gerbang neraka yaitu gerbang menuju kehancuran. Untuk itu, sedapat mungkin kita bisa mengendalikan amarah tersebut sebelum kita dikendalikan oleh amarah. Dengan mengendalikan amarah kita sudah melakukan tapa (pengendalian lidah). Dalam Atharvaveda XI.2 disebutkan ”Tapas cawa astam karma ca antar mahati arnawe”(pengendalian diri  dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia dan akhirat). Inilah Dharma sesungguhnya.

Daftar Pustaka
Easwaran,Eknath (2002).Sayap-Sayap Rajawali. Jakarta:PT. Garamedia Pustaka Utama.
Krishna,Anand(2001). Bersama J.P.Vaswani Menggapai Hidup Damai dan Ceria. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.
Pudja,Gede (2005). Bhagawad Gita (Pancama Weda). Surabaya: Paramita.
Pudja,Gede (2010). Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Veda Smrti. Surabaya:Parami.ta
Purwanto,Yadi& Mulyono,Rachmat (2006). Psikologi Marah Persfektif Psikologi Islam. Bandung: PT.Refika Aditama.
Wiana, I Ketut (1997). Beragama Bukan Hanya di Pura. Denpasar:Yayasan Dharma Naradha.
http://www. ilmupsikologi.com/?=359 (28 Pebruari 2012)

Tulisan kontribusi: I Wayan Alit Sudarma, Penyuluh Hindu pada Kanwil Kemenag Prov. NTT, way_sudarma@yahoo.co.id

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites