Melasti Tawur Kasanga

Meningkatkan bhakti, menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa, dan mencegah kerusakan alam

Ngiring Prawatek Dewata

Melakukan perjalanan suci menuju sumber air seperti laut atau mata air lainnya yang memiliki nilai sakral

Anganyutaken Laraning Jagat

Membangkitkan spiritualitas untuk berusaha menghilangkan kesengsaraan hidup di bumi secara ragawi dan rohani

Anganyutaken Papa Klesa

Membinasakan kepapaan yang disebabkan oleh oleh awidya, asmita, raga, dwesa dan abhiniwesa

Anganyuntaken Letuhing Bhuwana

Menjaga kelestarian alam semesta dengan membersihkan pencemaran pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

BALI DAN BANTEN: Mendalami Ajaran Yoga Dalam Upakara


Print E-mail
Sarana upacara adalah upakara. Di Bali upakara dipopulerkan dengan istilah banten, sedangkan di India, upakara disebut wedya. Istilah wedya sebenarnya juga terdapat di dalam pustaka agama Hindu di Bali yang juga berarti banten. Upakara atau banten merupakan perwujudan dan ajaran bhakti marga dan karma marga.

Kata upakara terdiri atas dua kata yaitu upa yang berarti sekeliling atau sesuatu yang berhubungan dengan, dan kara artinya tangan. Jadi upakara berarti segala sesuatu yang dibuat oleh tangan, dengan lain perkataan suatu sarana persembahan yang berasal dan jerih payah bekerja.
Banten juga disebut wali. Maka upacara Dewa yadnya disebut juga pujawali. Kata wali mengandung pengertian: wali berarti wakil dan wali berarti kembali. Wali yang berarti wakil mengandung makna simbolis filosofis bahwa banten itu merupakan wakil daripada isi alam semesta yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi. Wali yang berarti kembali mengandung makna bahwa segala yang ada di alam semesta ini yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dipersembahkan kembali oleh manusia kepadaNya sebgai pernyataan rasa terimakasih. Banten juga berarti bali. Bali dalam bahasa Sansekerta berarti persembahan kepada bhuta, sehingga bhuta yadnya disebut sebagai bali harana atau bali karmana.

Banten memiliki banyak jenis dan bentuk serta bermacam-macam bahan. Secara sepintas banten kelihatannya unik dan rumit. Namun apabila diselidiki secara mendalam akan dapat dipahami bahwa banten mengandung arti simbolik dan filosofis yang tinggi serta terpadu dengan seni rupadanseniriasyangmengagumkan.
Faktor seni dalam banten mempunyai arti penting karena dapat menuntun fikiran yang penuh rasa bahagia dalam menuju Hyang Widhi. Oleh karena itu faktor seni dalam keagamaan adalah positif karena berperan sebagai penunjang pelaksnaan upacara agania untuk memekarkan rasa serta meningkatkan kemantapan perasaan.

Meskipun bahan banten terdiri dan bermacam-macam, namun prinsipnya bahan banten itu terdiri dari unsur isi alam, yaitu:
1. Mataya, adalah bahan banten yang berasal dari sesuatu yang tumbuh atau tumbuh-tumbuhan seperti daun, bunga, buah dan  sebagainya.
2. Maharya, adalah bahan banten yang berasal dari sesuatu yang lahir, diwakili oleh binatang-binatang tertentu seperti kerbau, kambing, sapi dan sebagainya.
3. Mantiga, adalah bahan banten yang berasal dari yang lahir dari telor, termasuk telor itu sendiri seperti ayam, itik, angsa, telor ayam, telor itik, telor angsa dan sebagainya.
4. Logam atau datu seperti perak, tembaga, besi, mas, timah (panca datu).
5. Air atau cairan. Ada lima macam cairan atau air yang dipakai banten yaitu:
    a. Air yang berasal dari jasad atau sarira, diwakili dengan empehan atau susu.
    b. Air yang berasal dari buah-buahan, diwakili dengan berem.
    c. Air yang berasal dari uap atau kukus diwakili dengan arak.
    d. Air yang berasal dari sari bunga diwakili dengan madu
    e. Air yang berasal dari tanah atau bumi diwakili oleh air hening. Kelima zat cair ini disebut panca  amerta.
6. Api dalam wujud dupa dan dipa
7. Angin dalam wujud asap yang harum
Inilah isi dalam ciptaan Ida Sang Hyang Widhi yang dipersembahkan kembali kepada Beliau.

Ajaran agama Hindu meliputi sesuatu yang lahiriah dan batiniah serta dapat dilaksanakan secara individual dan kolektif. Sifat ajarannya adalah luwes dan elastis. Keluwesannya dinyatakan dengan istilah desa, kala, patra yang artinya agama Hindu dapat dilaksanakan menurut tempat waktu dan keadaan. Sifat elastis memberikan peluang pelaksanaan agama Hindu menyesuaikan diri dengan peningkatan teknologi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan jaman serta situasi ekonomi dan zaman ke zaman. Adanya sifat luwes dan elastis itu karena Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu bersifat mengatasi ruang dan waktu.

Dalam kaitannya dengan upakara dan upacara agama Hindu, sifat luwes dan elastis itu selain berlandaskan desa, kala dan patra,  juga dapat dilaksanakan menurut tingkatan kanista, madya dan utama. Kanista berarti sesuatu yang menjadi prinsip di dalam upacara dan upakara itu yang harus ada. Madya adalah pengembangan dari prinsip tersebut sehingga menjadi lebih besar dari kanista. Utama adalah pengembangan dan penambahan dari madya sehingga tampak menjadi lebih besar dari tingkatan madya. Apabila yang prinsip dilaksanakan, maka upacara dan upakara itu sudah benar menurut ajaran agama Hindu. Apabila melaksanakan yang madya atau utama tetapi tidak memperhatikan yang prinsip itu, maka upacara dan upakara itu tidak mengenai sasaran yang dituju.

Ada tiga hal yang seimbang di dalam melakukan upacara atau yadnya yaitu: Upacara, upakara dan pujamantra yang digunakan oleh Pedanda dalam memimpin upacara. Apabila ketiganya tidak seimbang, maka akan terjadilah ketimpangan dalam pelaksanaan upacara agama. Selain itu harus diciptakan kemanunggalan trimanggalaning yadnya yaitu : orang yang beryadnya, wiku tapini atau tukang banten dan Pedanda yang muput upacara tersebut.

Seni budaya merupakan penunjang sarana upacara. Berbagai kesenian berperan dalam menunjang upacara seperti : seni rias yang dipancarkan oleh bentuk banten, seni suara berupa kidung kakawin atau lagu-lagu pujaan, seni tari berupa seni sakral dan seni wali, seni tabuh berupa gamelan, serta aturan busana upacara agama.  Adanya seni budaya yang menunjang upakara dan upacara maka upacara tersebut menjadi begitu meriah dan memberikan rasa bahagia. Seni budaya tersebut sesungguhnya bukan seni melulu, melainkan suatu seni yang mengandung makna simbolis tertentu dan membungkus ajaran tattwa agama.

Hadirnya banten dalam tradisi Hindu di Bali sesungguhnya melewati perjalanan sejarah yang panjang. Di dalam kitab Yajur Weda dapat diketahui adanya persembahan yang dihaturkan kepada Dewa sebagai manifestasi dan Brahman berupa gandam, ksatam, puspam, dupam, dipam, toyam, gretam dan soma. Sesuai dengan namanya sendiri bahwa Yajur Weda artinya pengetahuan yang digunakan untuk persembahan. Materi persembahan dalam Yajur Weda tersebut kita lihat sekarang dalam bentuk tetandingan banten. Memang dalam kitab Yajur Weda tidak disebutkan binatang sebagai persembahan.

Selanjutnya apabila kita mendalami konsepsi tantrayana yang juga berpengruh di Bali kita mengetahui adanya konsep panca tattwa terdiri atas matsya, mamsa, madhya, maithuna dan mudra. Matsya yaitu ikan, mamsa adalah daging, madhya adalah minuman, maithuna adalah penyatuan pikiran atau samyoga, dan mudra adalah sikap tangan yang mengandung kekuatan gaib. Ajaran tantra adalah ajaran yang sangat kompleks serta dalam. Pada intinya tantrayana mengajarkan suatu keharmonisan antara sekala dengan niskala atau wahya dan dhyatmika.

Di samping ajaran Weda dan Tantrayana, alam pikiran lokal juga melandasi adanya banten yang dikemas dalam simbol-simbol pengharapan manusia terhadap sesuatu. Hal ini sangat tampak dalam upacara pitra yadnya, manusa yadnya dan bhuta yadnya. Alam pikiran lokal itu ditunjang oleh berbagai kreasi imat Hindu setempat sebagai perwujudan rasa indah dalam memuja Hyang Widhi dan para arwah leluhur. Konsepsi Weda, tantrayana yang berasal dan India serta alam pikiran lokal sebagai budava asli Indonesia, ketiganya terpadu dan luluh secara harmonis menjadi satu yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk banten sekarang. Itulah sebabnya banten di Bali memancarkan nilai keindahan penuh makna simbolis dan sangat unik. Sistem seperti itu meresapi pula kehidupan sosial budaya dan agama Hindu di Bali sehingga menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat umat Hindu yang mencakup tata kemasyarakatan dan tata keagamaan.

Ketika banten disusun sedemikian rupa menjadilah ia sebuah candi banten, sekaligus sebagai sebuah persembahan. Candi banten adalah tempat mensthanakan Tuhan Yang Maha Suci, sehingga banten benar-benar dijaga kesuciannya. Bahan-bahan terpilih tidak saja bersih tapi juga suci atau sukia. Demikian juga halnya dengan proses pembuatannya. Umat Hindu khususnya kalangan wanita mempraktekkan ajaran yoga dengan pemusatan pikiran dalam membuat banten. Jadi banten dibuat tidak saja dengan proses kreatif tetapi juga dengan proses yoga dengan mengutamakan nilai-nilai kesucian. Ada pernusatan pikiran disini, dengan menggerakkan jan- jemani bagaikan sedang berjapa. Seperti itulah para tukang banten dan para wiku tapini melakukan aktifitas penuh makna kesucian, membuat banten dalam posisi bajra asana atau padma asana memusatkan pikiran kepada Sang Pencipta.

Mari kita berusaha mewujudkan bhakti yoga marga dan karma yoga marga sekaligus dengan jnana yoga marga dan raja yoga marga dalarn proses membuat banten, dalam suasana yang hening, heneng dan suci. Semoga dengan demikian Ida Hyang Widhi rang Maha Suci menganugrahi kita kesucian pikiran dan kerahayuan dalam hidup ini .

Sumber: Diah  [WHD No 534 Juni 2011]  http://www.parisada.org

Rabu, 07 Mei 2014

TINGGALKAN SIKAP SINISME DAN FANATISME SEMPIT

(Bhagawad Gita IV. 11).



Ye yathaa mam prapadyante
taam tathai va bhajami aham
mama vartamaa nuvartante
manusyaah paartha sarvasah

[Jalan manapun yang ditempuh manusia menuju kearahKu, semuanya Aku terima dan arah manapun sepanjang itu jalan menujuKu oh Parta]


KEBERADAAN Tuhan itu pertama-tama didekati dengan keyakinan. Kemudian barulah menggunakan akal yang logis untuk menganalisaNya. Misalnya, keberadaan alam semesta ini demikian luas dengan dimensi yang tidak terjangkau oleh kecerdasan intelektual. Dengan kecerdasan itu manusia tidak bisa membuktikan bahwa siapa sesungguhnya sebagai pencipta atau perancang alam semesta ini sehingga nyata ada. Tidak mungkin yang ada ini diciptakan oleh yang tidak ada.

Setelah analisa intelektual tidak menjangkaunya maka timbulah logika bahwa ada sesuatu Yang Maha Tinggi tak terbatas sebagai penciptanya. Karena diluar kemampuan kecerdasan manusia mencapainya, maka munculah kesimpulan bahwa Sang Pencipta itu adalah Tuhan. Tuhan itu tidak mungkin diterangkan oleh manusia betapapun hebat tingkat kercerdasannya. Dalam ajaran Siwa dinyatakan: Bhatara Siwa meraga suksma, sira suwung tan kagrahita dening manah muang indria. Artinya Tuhan itu amat gaib, kosong, tidak bisa diraih dengan kecerdasan pikiran dan indria.

Pernyataan ini dapat ditetapkan bahwa Kemahakuasaan Tuhan itu hanya dapat dicapai melalui pendekatan Sradha dan Bhakti atau diyakini dan dipuja. Melalui Sradha dan Bhakti inilah manusia dapat mendayagunakan keyakinannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hidupnya. Umat manusia yang meyakini keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan, pada kenyataanya disamping memiliki berbagal kesamaan juga memiliki banyak perbedaan. Dalam hal meyakini keberadaan Tuhan itupun di antara manusia memiliki banyak perbedaan yang meliputi banyak aspek. Perbedaan dalarn meyakini Tuhan ini ada dalam wujud Agama dan ada dalam wujud kelompok kepercayaan pada Tuhan. Di internal umat seagamapun terjadi juga berbagai perbedaan itu. Dinamika perbedaan itu ada dalam batas-batas dialogis, ada juga berlanjut sampai pada kondisi dikotomis. Perbedaan yang sampai pada kondisi dikotomis ini kalau tidak dikelola dengan balk dapat berkembang hingga menimbulkan konflik.

Agar tidak terjebak pada kondisi dikotomis yang mengarah pada konflik, semua pihak yang meyakini Tuhan wajib meninggalkan sikap fanatisme sempit dan sinis pada para pemuja Tuhan yang berbeda dengan yang kita anut dan pahami. Alamsyah Ratu Prawira Negara saat menjabat Menteri Agama di era orde baru pernah menyatakan, semua agama itu baik hanya satu yang terbaik, itulah yang aku peluk.

Pernyataan Alamsyah Ratu Prawira Negara ini patut direnungkan dalam-dalam. Semua agama yang dianut oleh umat manusia di dunia ini baik dan seyogyanya kita hormati. Hanya salah satu yang kita yakini terbaik itulah yang kita peluk. Ini artinya, agama yang tidak kita peluk bukan berarti tidak baik. Di samping itu, sangat tidak lazim orang menganut banyak agama. Menganut salah satu dari agama yang ada karena melalui proses turun-menurun. Ada juga menganut salah satu agama karena pilihan sendiri. Fanatik pada agama yang dianut tentunya sah saja, apalagi agama yang dianut itu sebagai pilihannya. Sepanjang agama yang tidak dianut itu tidak dianggap jelek dan salah. Fanatisme yang sempit dengan menganggap agama yang tidak dianut itu salah dan sesat akan menimbulkan masalah serius dalam kehidupan bersama dalam masyanakat. Penganut agama yang dianggap tidak salah dan sesat itu tentunya akan bereaksi. Kalau pengendalian dirinya tidak kuat akan membalas bahwa agama yang tidak dianut itulah yang salah dan sesat. Bahkan ada peng-khotbah suatu agama yang terang-terangan menyatakan di sebuah TV swasta bahwa hanya umatnyalah yang akan masuk surga sedangkan umat lain semuanya akan masuk neraka dengan azab deritanya. Kaitan dengan hal ini kalau tidak bijak kita memahaminya dan ikut bodoh seperti peng-khotbah itu bisa menimbulkan gesekan-gesekan sosial yang amat peka dan berbahaya bagi persatuan bangsa. Waktu kita akan habis untuk bertengkar dan saling mengklaim bahwa agama yang dianutnyalah yang paling benar dan paling baik. Selain dari agama yang dianut adalah salah dan sesat. Seyogyanya gunakanlah waktu semaksimal mungkin untuk mengamalkan ajaran agama yang dianut sampai menimbulkan transformasi diri ke arah yang semakin baik, membawa hidup bahagia lahir batin.

Sinisme dan fanatisme sempit dalam kehidupan beragama akan membawa citra umat beragama menjadi merosot. Swami Vivekananda dalam kongres parlemen agama-agama sedunia di Chicago, AS tahun 1893 menyatakan, mengharapkan dunia ini hanya ada satu agama saja dianut adalah suatu impian di siang bolong. Pada kenyataannya memang sampai saat ini manusia penghuni dunia ini menganut banyak agama. Meskipun manusia memiliki berbagai persamaan, tetapi dalam hal menganut agama, mereka sulit rasanya akan hanya menganut satu agama. Menyamakan mereka yang seagama saja, nampaknya amat sulit. Apalagi menyatukan umat manusia penghuni dunia ini untuk menganut satu agama yang sama. Tentu tidak mungkin.

Demikian juga halnya dalam Agama Hindu yang amat menghargai kemerdekaan melakukan Sradha dan Bhakti pada Tuhan. Sri Swami Siwananda dalam bukunya All About Hinduism menyatakan, Hinduisme menghidangkan hidangan spiritual pada setiap orang sesuai dengan pertumbuhan rohaninya. Karena itu tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah ini. Adanya perbedaan bentuk luar dan tradisi budaya beragama Hindu itu karena penerapan Agama Hindu itu wajib didasarkan pada lima pertimbangan sebagaimana dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VII. 10. Lima dasar pertimbangan itu adalah Iksha, Sakti, Desa, Kala dan Tattwa. Kemerdekaan beragama Hindu ini sangat sejalan dengan isi UUD 1945 yang menyatakan, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk menganut agama dan beribadah sesuai agama dan kepercayaannya itu. Ini artinya, jangankan antarsatu kelompok dengan kelompok penganut agama lain, antara seseorang dengan orang lain pun wajib saling menghormati dalam perbedaan agama yang dianut. Yang penting, tidak adanya sikap yang sinis dan fanatik yang sempit dari satu penganut agama pada penganut agama lain yaag dianggap berbeda. Gunakanlah waktu ini sebaik mungkin untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup ini baik dalam kebersamaan maupun dalam kesendirian.
Sumber:  I Ketut Wiana. http://www.parisada.org

Sabtu, 05 April 2014

MELASTI, MEMETIK SARI KEHIDUPAN



Tradisi India yang bermakna sama dengan malasti ala Bali ini bernama nagasankirthan. Bedanya: di India nagasankirthan dilakukan berkeliling sambil mengidungkan nama-nama suci Tuhan seraya mengusung simbol Tuhan dalam bentuk gambar istadewata.
Sebelum Nyepi dirayakan pada pananggal apisan sasih Kadasa (hari pertama bulan ke sepuluh) selalu didahului dengan kegiatan melasti, nyejer, dan tawur kasanga. Makna melasti dan tawur kasanga ini dijelaskan dalam lontar berbahasa Jawa Kuno, Aji Swamandala dan Sunarigama. Ini menunjukkan, prosesi upacara semacam ini dahulu sudah pernah dilakukan umat Hindu di Pulau Jawa.

Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan, “Malasti ngarania ngiring prawatek dewata anganyutaken laraningjagat, papa klesa, letuhing bhuwana.” ini berarti: malasti adalah menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa, dan kekotoran Alam Semesta. Sedangkan lontar Sunarigama menyuratkan, tujuan malasti itu adalah “amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara,” yang berarti “mengambil saripati kehidupan di tengah samudra”.

Dan kutipan lontar tersebut terkandung makna malasti yang sangat luas, dalam, dan universal. Keluasan, kedalaman, dan keuniversalan arti dan makna yang tersurat dan tersirat dalam teks lontar tersebut menjadi kian penting dicamkan manakala dikaitkan dengan kehidupan kita di planet Bumi ini. Lewat teks lontar ini didapat pemahaman, malasti sesungguhnya memberikan empat Iangkah tuntunan guna menjadikan hidup ini bermakna dalam mendapatkan sari-sari kehidupan.

Pertama, ngiring prawatek dewata. Artinya, membangun sikap hidup untuk senantiasa menguatkan sraddha bhakti dan patuh pada tuntunan para Dewata, sinar suci Tuhan, baik sebagai Dewa Dewa maupun sebagai Dewa Pitara - roh suci yang telah mencapai alam Dewa atau Sidha Dewata. Teks lontar Sang Hyang Aji Swamandala inilah yang dijadikan landasan oleh umat Hindu di Bali melakukan upacara malasti dengan melakukan pawai keagamaan di Bali dinamakan mapeed - guna melakukan perjalanan suci menuju sumber air, seperti laut, sungai, atau mata air lain yang dianggap memiliki nilai sakral secara keagamaan Hindu. Peserta malasti umumnya dan pura kahyangan yang ada di tingkat desa pakraman dan sekitarnya, lengkap diiringi umat panyungsung masing-masing pura tersebut. Balk pura kahyangan tiga yang merupakan jenis pura dewa pratistha maupun pura atma pratistha.

Sebelum puncak upacara malasti dilakukan di pusat-pusat mata air, seperti laut, sungai, danau, dan lain-lain, semua peserta lazim berkumpul dahulu di Pura Desa setempat. Begitu pula setelah puncak upacara malasti dilakulcan, semua pengiring malasti pun berkumpul kembali di Pura Desa. Di Pura Desa ini, usai malasti, lazimnya arca-arca dewadewi yang disucikan itu di-adegang atau nyejer beberapa hati, dan selama itu pula umat desa setempat berkumpul bersama pula di Puna Desa.

Adapun saat malasti itu dilangsungkan, simbol-simbol keagamaan yang sudah mengalami proses penyakralan sesuai dengan ketentuan keagamaan Hindu di Bali, seperti arca dewa-dewi, itu pun diusung menuju sumber-sumber air. Di sumber-sumber air itulah puncak upacara digelar dengan inti menghaturkan bakti kepada Tuhan dalam manifestasi sebagai Dewa Baruna, lalu diakhiri nunas tirta wangsuh pada sebagai simbolik tirta amerta kamandalu yang didapatkan di tengah samudra.

Usai malasti, arca-arca sakral tadi lantas diusung pula keliling wilayah desa pakraman, sebelum akhirnya berkumpul bersatu kembali di bale agung Pura Desa setempat. Dalam aras spiritual, perjalanan mengusung arca suci keliling desa ini dimaksudlcan buat menebar dan menyebarkan getaran atau vibrasi kesucian ke sekeliling wilayah desa.

Kedua, anganyutaken laraning jagat. Ini berarti, dengan upacara malasti orang dimotivasi secana ritual supaya membangkitkan spiritualitas unmk menghilangkan laraningjagat. Tidak mudah mencarikan padanan makna laraning jagat mi dalam bahasa Indonesia. Lara agak mirip, memang, dengan hidup menderita. Namun, lara tidaklah semata-mata orang yang miskin materi. Banyak juga orang kaya, atau berkuasa, berpendidikan tinggi, ataupun keturunan bangsawan, hidupnya tergolong lara. Kenapa?

Karena orang kaya menggunakan kekayaannya untuk membangkitkan kehidupan yang mengumbar hawa nafsu. Kekuasaan dijadikan media mengembangkan ego, untuk bersombong-sombong-ria, atau menggunakan kekuasaan untuk mengeruk keunmngan pribadi. Bukan untuk mengabdi kepada mereka yang menderita. Demikian juga banyak ilmuwan menjadi sombong karena merasa diri pintar. Banyak juga orang yang meninggi-ninggikan kewangsaannya. Sifat-sifat negatif semacam inilah yang akan menimbulkan disharmoni dalam kehidupan bermasyarakat, menimbulkan laraningjagat.

Menghilangkan laraning jagat, karena itu, hendaknya diwujud-nyatakan dengan menghilangkan sumber penderitaan masyarakat, baik bersifat sakala maupun niskala.

Ketiga, anganyutaken papa klesa. Para pinandita maupun pandita Hindu di Tanah Air dalam mengantarkan upacara keagamaan selalu mengucapkan mantram: OM papa klesa winasanam. Mantram ini hampir tidak pernah dilupakan, yang berarti: Ya, Tuhan, semoga papa klesa ini terbinasakan. Hidup manusia menjadi papa karena didominasi sifat-sifat klesa dalam diri pribadi yang bersangkutan. Kelima klesa awidya, asmita, raga, dwesa, dan abhiniwesa yang dibawa oleh unsur pradana dalam diri inilah yang patut diatasi agar hidup tidak menjadi papa. Hidup yang papa itu berjalan jauh di luar garis dharma, sehingga membawa seseorang semakin jauh dan Tuhan.

Keempat, anganyutaken letuhing bhuwana. Yang dimaksud dengan bhuwana yang letuh adalah alam yang tidak lestari. Letuh berarti kotor lahir bathin. Atau dalam kitab Sarasamuscaya dinamakan bukan bhuta hita. Bhuta berarti ‘unsur yang ada’. Bhuta itu ada lima, sehingga dinamakan pancamahabhuta, mencakup: pertiwi (padat/tanah), apah (cair/air), teja (bersinar/api), bayu (berembus/angin), dan akasa. Kelima unsur alam inilah yang wajib dijaga kesejahteraannya, dengan tidak mengganggunya.

Begitulah, upacara malasti itu bertujuan menanamkan nilai-nilai filosofis tadi sehingga setiap orang termotivasi melakukan empat langkah tersebut dalam hidupnya secara sadar dan terencana. Malasti dilakukan beberapa han sebelum upacara tawur kasanga, lazimnya tiga hari sebelum tawur kasanga. Adapun tawur kasanga digelar bertepatan dengan Tilem Kasanga, bulan mati kesembilan.

Patut diperhatikan, tujuan utama malasti adalah mendapatkan tirta amerta kamandalu di tengah samudra. Tirta itu air suci, sedangkan amerta berarti hidup. Adapun kamandalu dalam bahasa Sansekerta berarti ‘tempat air suci’. Mengapa disebut air suci? Karena ia dapat memenuhi keinginan yang mulia.

Kamandalu berasal dan kata kama, berarti keinginan. Keingmnan itu ada dua: wisaya kama dan sreya kama. Wisaya kama merupakan keinginan yang didorong hawa nafsu semata, sedangkan sreya kama keinginan mulia yang didorong kesucian hati nurani. Keinginan mulia im, misalnya, ingmn ber- dana punia, ingin berkorban. Keinginan tertinggi adalah mencapai moksa.

Jadi, malasti merupakan simbolik upaya menyucikan buwana alit dan buwana agung. Dengan kesucian kita dapat meraih kehidupan yang mulia dan mendapat wadah untuk mengembangkan keinginan mulia, sreya kama. Malasti juga mengingarkan manusia agar selalu mengembangkan sreya kama, mengembangkan keinginan mulia, sekaligus meredam wisaya kama, keinginan mengumbar hawa nafsu.

Upacara malasti, karena itu, merupakan media sakral memvisualkan proses hidup guna meraih kehidupan yang sejahtera lahir batin di Bumi ini. Bumi inilah media mencapai tujuan hidup tertinggi: mencapai moksa.

Ini berarti dengan empat langkah itulah umat baru dapat dibenarkan memperoleh hidup sejahtera, yang dalam lontar Sunarigama dibahasakan “amet sarining amerta kamandalu ring telenging segara” (mengambil air kehidupan di tengah samudra). Ini memberi tuntunan: manusia berhak mendapatkan amerta kamandalu bila terlebih dahulu melakukan empat langkah penting.

Lontar Aji Swamandala membabarkan empat langkah penting yang dimaksud itu: bahwa guna meraih air kehidupan yang sejahtera lahir bathin, terlebih dahulu tingkatkanlah sraddha bhakti kepada Tuhan. Kuatnya sraddha bhakti kepada Tuhan jadikan pendorong meningkatkan kepedulian sosial (anganyutaken laraning jagat), memperbaiki kualitas diri dengan melepaskan lima kekotoran diri (papa klesa), sekaligus menghilangkan sikap hidup yang merusak alam (letuhing buwana).

Dikutip dari I Ketut Wiana, sesuai dengan aslinya. http://www.parisada.org.

Senin, 24 Februari 2014

MENCARI JATI DIRI DENGAN PENGETAHUAN SEJATI


Om Swastyastu,
Om Avighanam astu nama sidham,
Om pramo Dewai Saraswati,
Wajebhir najiwinati,
Dhinamawitryawatu.
[Tuhan yang dalam manifestasi sebagai Dewi Saraswati, Hyang yang maha agung,
semoga engkau memancarkan kekuatan rohani, kecerdasan pikiran, dan lindungilah
kami selama-lamanya]
Renungan kali ini mengulas bagaimana Mencari Jati Diri Dengan Pengetahuan Sejati, mengapa harus demikian? Seperti yang kita alami dan rasakan sendiri, dari awal kehidupan dunia selalu diawali dengan suatu proses kerja yang tiada terhenti dan terputus, sebab jika terhenti sedikit saja maka roda kehidupan pun akan ikut musnah. Tuhan yang adalah penguasa kehidupan ini tidak akan pernah dan sekalipun dapat  memejamkan matanya untuk kita, beliau terus bekerja dan belajar untuk dapat memahami dan menyenangkan semua ciptaannya, begitupun kita yang adalah ciptaan Tuhan yang tertinggi diharapakan untuk terus memompa diri, berbenah dan memperbaiki segala yang akan dilewati dan yang telah dilewati.karena di mata Tuhan tidak ada kata terlambat, (karena yang membuat kata terlambat adalah kita manusia), jika kita salah dalam melangkah, berbuat, bertindak, berkata dan lain-lain yang notabene telah menyakiti hati dan perasaanNya, Tuhan selalu  dan senantiasa membuka hati dan mengabulkan setiap keluh kesah, lain dengan kita manusia, jika telah sedikit melakukan kesalahan maka kata yang akan kita dengar adalah terlambat sudah atau bahasa gaulnya Lo gue and. Perlu kita sadari bahwa Tuhan tidak pernah melihat  siapa kita, dari mana asalnya, baik buruk, cantik jelek, kaya miskin, semua diporsikan sesuai dengan karma yang telah kita lakukan sendiri. Begitupun pribadi manusia, jika kita dapat mengetahui diri dan menemukan jati diri kita dengan jalan dharma maka karma yang akan kita dapatkan pastilah sesuai apa yang kita lakukan. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagavadgita III.19, yang berbunyi :
Tasmad asaktah satatam, karyam karma samacara, asakto hy acaran karma, param apnoti purusah.
[Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat (pada akibatnya), sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama]
Di sini pekerjaan yang dilakukan tanpa pamrih dinyatakan sebagai mengungguli kegiatan kerja yang dilakukan dengan semangat pengorbanan, sedangkan kegiatan ini saja sudah lebih tinggi dari pada kegiatan kerja yang dilakukan dengan tujuan pamrih, bahkan roh-roh yang terbebaskan sekalipun masih tetap bekerja sebagai kegiatan yang muncul dengan sendirinya. Yogavasistha menyatakan
“Yang mengetahui atman tidak mengharapkan sesuatupun yang harus dicapai, baik dengan melakukan kerja maupun tidak, oleh karena itu ia melaksanakan kegiatan kerja tanpa keterikatan apapun”.
Dalam Bhagavadgita pun, Sang Krisna mengajarkan bahwa:
“bila engkau mengembangkan pengetahuan spiritual, maka segala ketidaktahuan, kesulitan, kesusahan, dan kesedihanmu  akan lenyap”
Demikian hal ini akan selalu terpatri dalam benak kita, dimana selama kita masih menyamakan sang diri dengan tubuh/badan maka kita akan selalu mengalami kesulitan dan kesedihan, sebab hal utama kita memperoleh tubuh/badan ini adalah untuk mendapatkan, melakukan kegiatan kerja yang memungkinkan kita menuai hasil dari perbuatan yang lampau.
Kita sering kali terjebak dalam suasana keterikatan pada sesuatu dan ketidaksenangan atau penolakan terhadap yang lain, karena pada hakekatnya kita manusia memiliki sifat mendua, dan yang menjadi sumbernya adalah ketidaktahuan kitalah yang telah diselimuti oleh selubung hitam yang telah menutupi pengetahuan kesejatian kita. Kita pun telah lupa dan tidak menyadari akan keEsaan seluruh makhluk Tuhan dan jika ingin terbebas dari ketidaktahuan ini, kita harus mendapatkan pengetahuan diri karena satu-satunya jalan untuk menghilangkan kegelapan dan kebodohan adalah pengetahuan terang pada diri/atman yang sejati.
Contoh sederhana yang ada pada diri kita, yakni mata kita yang merupakan sumber untuk kita dapat mengetahui segala keindahan dan keagungan dunia, dengan daya penglihatan pastinya akan terhalangi tatkala ada debu/mata kita katarak, maka dapatlah dipastikan bahwa kita tidak dapat melihat dengan sempurna namun dengan melakukan pengobatan dan operasi maka penglihatan kitapun akan pulih kembali, demikian diri kita jika terus diperbaharui dengan pengetahuan spiritual maka segala kegelapan pikiran akan lenyap, seperti halnya matahari akan masuk denga leluasa bersinar dalam kamar yang sempit jika jendela/gorden dibuka, demikian sekaranglah saatnya kita membuka pikiran dan hati kita, mengolah atman /diri kita dengan pengetahuan sejati. Dengan terus bekerja dan belajar untuk mengetahui diri kita sendiri, maka kitapun akan belajar untuk menerima dan memahami setiap individu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bagi seorang wanita/perempuan indonesia akan sangat berbangga dan berterimakasih kepada seorang pahlawan wanita yang tiada henti terus bekerja, belajar dan membagi pengetahuan bagi kaumnya, serta  membawa kaumnya keluar  dari kegelapan pengetahuan, belia adalah Ibu Kartini, yang dikenal sebagai perempuan indonesia yang lembut dan bersahaja dengan pengetahuan diri dan budi pekerti yang mulia. Habis gelap terbitlah terang.
Dengan berpegang pada ilmu pengetahuan yang bersumber dalam sastra agama seperti Bhagavadgita, Sarasamuscaya dan lain-lain yang lahir dari akal (manah) dan budhi  akan mengiring manusia memperoleh keharuman nama, seperti yang tersimpul dalam Sarasamuscaya, 507:
Budhilabhaddhi purusah, sarvam tavam kilbisam, wipape labhate sattwam, sattwasthah samprasidam
[Orang bijaksana berakar pada ilmu pengetahuan, sifat satwamnya akan smakin tinggi, tidak dipengaruhi oleh sifat rajah da tamah, malhirkan pikiran yang baik dan mulia, tidak juga dipengaruhi oleh tresna (keterikatan duniawi) maka ia berjiwa suci bersih tidak terikat atau bebas dari karmaphala dan kemahsyuran tinggi)]
Renungan ini kiranya dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan sangat penting bagi manusia, karena dalam menjalani hidup didunia dari sejak lahir hingga  meninggal, maka tahap brahmacari merupakan landasan yang sehat jasmani dan rohani yang seimbang  yang dikuasai oleh budhi yang luhur untuk mencapai kebahagiaan dengan mempunyai pemahaman terhadap diri sendiri (Self Understranding) serta penerimaan diri (Self Acceptance) untuk melakukan segala tugas/karya dengan menggunakan indera/pikiran yang benar. Seperti  yang selalu diingat oleh Lima Pandawa dalam kisah Mahabaratha dalam kitab Itihasa, yakni:
Dengan pendidikan engkau mendapatkan pengetahuan, dengan pengetahuan engkau mendapatkan kepandaian, dengan kepandaian engkau mendapatkan kekayaan dan dengan kekayaan engkau akan memperoleh kemasyuran.
Semoga pengetahuan sejati akan diri, membawa kita untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya. Om Santih, Santih, Santih, Om.
Penulis:  Regina Sherly Pentau, S.Ag.,  Kepala Sekolah TK Saraswati Kupang

Sabtu, 09 November 2013

Keutamaan Menahan Marah (Krodha) Menurut Bhagawad Gita

Tri vidham narakasyedam
dvaran nasanam atmanah,
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet (Bhagawad Gita.XVI.21)
[Ada tiga pintu gerbang menuju neraka (jurang kehancuran diri) yaitu kama (hawa nafsu)
Krodha (kemarahan) dan lobha (sifat rakus), oleh karena itu ketiganya harus ditinggalkan]

Latar belakang
Kemarahan menjadi endemis sekarang ini, kemarahan ada dalam buku-buku,  film, di televisi, di sekolah, di rumah bahkan di ruang sidang terhormat sekalipun. Kemarahan ada di sekitar kita.Waspadalah!

Orang mudah sekali marah, hanya karena masalah-masalah yang sepele saja.Orang tidak dapat menahan emosinya dan meluapkan kemarahannya dalam berbagai bentuk yang negatif.

Melihat realita  yang ada di tengah-tengah kehidupan kita seperti itu,  sangat diperlukan sekali upaya-upaya mengendalikan amarah sebagai penyebab pertama malapetaka kehidupan. Tulisan ini membahas tentang beberapa hal antara lain : pengertian marah, tingkatan marah, ciri-ciri marah, penyebab marah, bahaya marah, keutamaan menahan marah menurut Bhagawad Gita dan terapi sederhana mengatasi marah.

Pengertian marah
Dalam bahasa Sanskerta marah disebut krodha sesuai dengan penjelasan sloka Bhagawad Gita  XVI.21 di atas. Kemudian dalam Manawa Dharmasastra  kata krodha diterjemahkan sebagai kemarahan (Pudja,2010:7).
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Purwanto,2006), marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan yang di rasakan sebagai ancaman. Selanjutnya menurut Wayne M. Dyer (1997), marah adalah suatu reaksi terhadap frustasi yang terlatih dimana seseorang  berbuat dengan cara-cara yang sesungguhnya ia tidak menginginkannya. Seseorang yang dalam keadaan  marah tidak dapat mengendalikan perbuatannya.

Berdasarkan teori-teori para ahli di atas maka dapat disampaikan bahwa kemarahan adalah suatu reaksi emosional yang terlatih atau dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, dimana sebenarnya ragam emosi yang kasar itu dapat disingkirkan atau sekurang-kurangnya dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan berbagai akibat atau bahaya yang fatal,yang akan disesali sepanjang hidupnya.

Tingkatan marah
Ada tiga kelompok pemarah.Pengelompokan mereka itu berdasarkan jenis atau sifat marahnya.

Kelompok pertama, bagaikan kelompok pemahat, membuat garis di atas batu.Garis yang mereka buat hampir abadi. Ratusan tahun kemudian pun, garis itu tetap ada. Kelompok ini selalu menyimpan dendam. Sekali membenci Anda, ia akan selalu membenci Anda. Api amarah dalam diri mereka tidak pernah padam.
Kelompok kedua, bagaikan membuat garis di atas kertas. Garis yang mereka buat tidak permanen, masih bisa di hapus. Ada yang membuat garis dengan pensil, sehingga mudah dihapus. Ada pula yang membuat garis dengan pena, sehingga agak sulit di hapus. Bahkan kadang kala kita harus menggunakan lapisan “tipp-ex” untuk menutupi garis yang telah kita buat. Kelompok ini pun menyimpan rasa dendam, namun hanya untuk beberapa saat.

Kelompok ketiga, adalah kelompok mereka yang sadar, yang tengah menggunakan “amarah” sebagai alat, sebagai sarana untuk menyadarkan kita. Amarah mereka ibarat garis di atas air. Bagaimana Anda bisa membuat garis di atas air? Mereka pun bisa nampak marah, namun amarah mereka tidak pernah berubah menjadi rasa dendam (Krishna,2001).

Ciri-ciri marah 
Ciri-ciri marah yang terjadi pada seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain sebagai berikut :
  1. Aspek biologis, ditandai dengan denyut jantung meningkat,wajah merah, reflex cepat,nada suara meninggi dan tangan mengepal. Hal ini disebabkan energi yang dikeluarkan saat marah bertambah,
  2. Aspek emosional, seseorang yang sedang marah merasa tidak  nyaman, jengkel, frustasi, dendam, ingin berkelahi, sakit hati dan menuntut,
  3. Aspek sosial, dimana emosi marah sering merangsang kemarahan dari orang lain dan menimbulkan penolakan dari orang lain. Pengalaman marah dapat mengganggu hubungan interpersonal. Amarah bisa menghancurkan suatu tatanan masyarakat,
  4. Aspek spiritual, amarah menghanguskan jiwa dan jiwa yang hangus akan mati terhadap kasih, terhadap pengampunan dan di atas segalanya. Jika api amarah masih bercokol, spiritualitas apa yang dapat kita bicarakan? keagamaan apa yang dapat kita bicarakan?
Penyebab marah
Secara garis besar penyebab marah itu terdiri dari faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik antara lain disebabkan karena kelelahan yang berlebihan, zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah,misalnya,jika otak kurang mendapat zat asam,orang tersebut akan lebih mudah marah . Dan pada sebagaian wanita yang sedang menstruasi juga lebih mudah marah.

Faktor psikis ini erat kaitannya dengan kepribadian seseorang seperti rasa rendah diri (minderwaar digheld complex), yaitu menilai dirinya sendiri lebih rendah dari yang sebenarnya. Kemudian sifat sombong (superiority compelx),yaitu menilai dirinya sendiri lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Jadi merupakan kebalikan dari sifat rasa rendah diri.Selanjutnya adalah sifat egois atau terlalu mementingkan diri sendiri, yang menilai dirinya sangat penting melebihi kenyataan. Orang yang bersifat egois akan mudah marah karena selalu terbentur pada pergaulan sosial  yang bersifat apatis (masa bodoh), sehingga orang yang egois tersebut merasa tidak diperlukan dengan semestinya dalam pergaulan sosial. Mereka biasanya diselimuti rasa marah yang berkepanjangan.

Bahaya marah
Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stress lainnya dengan efek yang nyata pada fisik Anda.
        
Para ahli berpendapat bahwa mereka yang sering marah mempunyai risiko serangan jantung yang lebih tinggi, stroke, depresi, maag, insomnia dan kelelahan. Amarah juga berakibat hilangnya nafsu makan, tergangunya pencernaan serta terganggunya otot dan syaraf selama berjam-jam atau bahkan  berhari-hari. 
Menurut para periset di AS, bahwa semakin sering Anda marah, semakin memperpendek usia Anda. Kemarahan dan emosi tinggi lainnya dapat memicu irama jantung mematikan.Selanjutnya hasil penelitian Harvard Medical School menjelaskan bahwa marah menyebabkan serangan jantung dan stroke.Orang yang paling mudah marah berpeluang tiga kali lipat untuk memiliki penyakit jantung. Marah-marah pada usia muda merupakan prediktor yang baik terhadap serangan jantung di hari tua. Semakin tinggi marahnya, semakin tinggi risikonya. Berhati-hatilah! Intinya sifat marah sangat merugikan bagi kesehatan kita.
        
Amarah yang lebih gamblang dikemukakan oleh Charles W. Sheed (dalam Purwanto, 2006) "tiga menit marah akan melemahkan kekuatan dan lebih cepat dari pada delapan jam bekerja" (three minutes of anger will sop your strength quicker than eight hour of work). Hal ini terjadi  karena marah membebankan ketegangan luar biasa pada tubuh seseorang. Ketika seseorang marah, darahnya membanjiri otot-otot utama pada tangan dan kaki sehingga ia memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada biasanya. Tetapi sebaliknya, persediaan darah pada otaknya banyak berkurang sehingga ia dapat lupa diri dan melakukan hal-hal yang destruktif. Perbuatan tersebut kemudian disesalinya setelah ia sadar diri atau tenang kembali.

Marah tumbuh dari gejolak darah dalam hati, marah menyeret seseorang mengumpat orang lain, bahkan melecehkan kehormatan, merampas harta orang lain, dan mengakibatkan pertumpahan darah.

Bhagawad Gita II.63 menjelaskan betapa bahayanya bila amarah berkecamuk  dalam diri seseorang.  Demikian pesannya.

Krodhadbhavati sammohah,sammohat smrti vibhramah,smrti bhramsad buddhi naso, buddhi nasat pranasyati
[dari amarah timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan akan menghancurkan penalaran, dari kehancuran penalaran membawanya pada kemusnahan].
Pada saat marah akal seolah-olah tertutup,dan kita menjadi bingung, pada saat bingung inilah kita tidak mampu mengendalikan diri.

Keutamaan menahan marah      
Mengingat betapa buruknya sifat marah, Bhagawad Gita memerintahkan agar kita meredamnya atau mengendalikannya.Berikut ini sloka-sloka dari Bhagawad Gita (BG) yang menjelaskan tentang keutamaan menahan marah.

1.  Pengendalian marah mempunyai manfaat memelihara kemampuan berpikir manusia dan mengambil keputusan yang benar dan bijaksana.

Duhkhesv anudvigna manah sukhesu vigata sprhah, vita raga bhaya krodhah sthita dhir munir ucyate (BG.II.56), artinya orang yang tidak sedih dikala duka dan tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu dan amarah, ia disebut orang yang bijaksana
2.     Dengan mengendalikana amarah bisa memperoleh kebahagiaan sebagai seorang yogi.
Saknotihaiva yah sodhum prak sarira vimoksanat, kama krodhodbhavam vegam sa yuktah sa sukhi narah (BG.V.23), artinya dia yang mampu menahan kecendrungan keinginan dan amarah di dunia ini sebelum meninggal jasad raganya ia adalah seorang yogi, dia adalah orang yang bahagia. Seorang yogi itu seperti lampu di tempat tidak berangin nyalanya tidak mengerdip, demikian pula dalam mengendalikan amarah tidak tergoyahkan.
3.     Dapat mengendalikan amarah, merupakan harta yang tidak ternilai dari seseorang yang dilahirkan dasi sifat-sifat Dewata .

Ahimsa  satyam akrodhas tyagah santir apaisunam,daya bhutesv aloluptvam mardavam hrir acapalam (BG.XVI.2), artinya Tidak menyakiti, bebas dari nafsu amarah tenang,tidak memfitnah, kasih sayang pada semua mahluk, lemah lembut, sopan dan berketetapan hati.  Sloka berikutnya ”Tejah ksama dhrtih saucam adroho na timanita, bhavanti sampadam daivim abhijatasya bharata”(BG.XVI.3) artinya suka memaafkan, teguh iman, semua ini adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat dewata,

4.     Yang mampu mengendalikan amarah layak mencapai Brahman.

Ahamkaram  balam darpam kamam krodham  parigraham,vimucya nirmamah santo brahma bhuyaya kalpate (BG.XVIII.53), artinyasetelah membuang jauh-jauh keakuan, kekerasan, nafsu amarah dan penuh kedamaian, ia layak mencapai Brahman.
Menjadi manusia bijaksana, seorang yogi, kelahiran Dewata dan manusia yang layak mencapai Brahman adalah  keutamaan dari menahan marah atau mengendalikannya . Hal ini perlu kita jadikan bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.

Terapi sederhana
Hal paling sederhana yang dapat Anda lakukan bila sedang marah adalah berjalan sambil mengucapkan doa (baca mantra). Kedengarannya menyederhanakan  masalah, tetapi cobalah pergi berjalan sambil mengucapkan nama suci Tuhan/Hyang Widhi di dalam hati. Dan Anda akan menemukan bahwa hubungan antara irama nafas Anda, irama langkah kaki Anda dan irama mantra mempunyai pengaruh besar pada kesadaran Anda.

Barangkali Anda tidak selalu mempunyai kesempatan untuk berjalan, tetapi Anda dapat mengucapkan mantra setiap saat. Anda bisa menyebutkan mantra Gayatri, Om, Rama, Krishna, Om Namah Siwaya atau yang lainnya secara berulang-ulang dalam hati agar amarah Anda segera reda.

Adalah Thomas Jefferson (dalam Easwaran, 2001) pernah mengatakan “Bila Anda marah, ulangi mantra sepuluh kali sebelum Anda berbicara, bila Anda sangat marah , ulangi seratus kali,dan bila Anda sangat benci, ulangilah selama mungkin”  inilah waktu untuk berdoa kepada Tuhan/Hyang Widhi.

Sementara Maxwell Maltz, menyarankan tiga cara mencegah kemarahan antara lain: pandanglah cermin dan lihatlah wajah Anda yang sedang marah, hilangkan energi yang meledak dengan aktifitas yang positif, misalnya, membaca, bercocok tanam, menyanyi dan olahraga.

Saran berikutnya adalah lakukanlah relaksasi sebagai salah satu terapi mengendalikan amarah.Relaksasi dapat menurunkan ketegangan. Setelah merasa rilek lakukanlah meditasi 10-15 menit  maka Anda akan memasuki kehidupan baru penuh kedamaian.

Terapi yang penulis sebutkan di atas seperti berdoa sambil berjalan, melihat cermin, melakukan aktifitas yang positif , relaksasi dan meditasi adalah terapi yang  mudah dan murah untuk dilakukan oleh siapa pun juga. Anda perlu mencobanya, semoga berhasil.

Penutup
Potensi kemarahan sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir. Sebelum bayi belajar bicara, emosi seperti gembira, takut, malu, heran, dan marah sudah ada dalam dirinya. Marah adalah reaksi terhadap sesuatu yang sesungguhnya kita tidak menginginkannya. Sifat marah merugikan diri sendiri baik dari segi biologis, emosional, sosial, spiritual dan kesehatan. Bahkan Bhagawad Gita XVI.21 menjelaskan bahwa kemarahan (krodha) adalah pintu gerbang neraka yaitu gerbang menuju kehancuran. Untuk itu, sedapat mungkin kita bisa mengendalikan amarah tersebut sebelum kita dikendalikan oleh amarah. Dengan mengendalikan amarah kita sudah melakukan tapa (pengendalian lidah). Dalam Atharvaveda XI.2 disebutkan ”Tapas cawa astam karma ca antar mahati arnawe”(pengendalian diri  dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia dan akhirat). Inilah Dharma sesungguhnya.

Daftar Pustaka
Easwaran,Eknath (2002).Sayap-Sayap Rajawali. Jakarta:PT. Garamedia Pustaka Utama.
Krishna,Anand(2001). Bersama J.P.Vaswani Menggapai Hidup Damai dan Ceria. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.
Pudja,Gede (2005). Bhagawad Gita (Pancama Weda). Surabaya: Paramita.
Pudja,Gede (2010). Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Veda Smrti. Surabaya:Parami.ta
Purwanto,Yadi& Mulyono,Rachmat (2006). Psikologi Marah Persfektif Psikologi Islam. Bandung: PT.Refika Aditama.
Wiana, I Ketut (1997). Beragama Bukan Hanya di Pura. Denpasar:Yayasan Dharma Naradha.
http://www. ilmupsikologi.com/?=359 (28 Pebruari 2012)

Tulisan kontribusi: I Wayan Alit Sudarma, Penyuluh Hindu pada Kanwil Kemenag Prov. NTT, way_sudarma@yahoo.co.id

Rabu, 07 Agustus 2013

Selingan: Alangkah Lucunya Orang Bali

Blog atau situs suatu lembaga biasanya berisi hal-hal yang diatur sedemikian rupa supaya lembaga yang bersangkutan terkesan hebat. Banyak contoh, lihat saja situs-situs lembaga lain. Kalau bukan menampilkan yang bernuansa pencitraan, isinya pasti serius. Saking seriusnya, orang menjadi sulit memahami, sesungguhnya yang ingin dikuomunikasikan itu apa? Blog ini mengenai organisasi Hindu, karena itu mungkin tidak harus hanya berisi tulisan mengenai Hindu. Sambil menunggu ada kontribusi umat (mudah-musahan ada yang terpanggil melakukan jnana yadnya), kami menampilkan tulisan dari blog/website lain, tentunya yang senuansa. Dan dari tulisan yang kami pilih, berikut ini adalah tulisan untuk menertawakan diri sendiri.

Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa, yang ditertawakan adalah ketidaklucuan itu. “Kasihan deh lu…!”, celetuk orang-orang.

Tetapi, orang Bali beda. Selain dikenal sebagai bangsa sederhana, terbuka, melontarkan pendapat apa adanya, orang Bali juga dikenal punya bakat besar untuk melucu. Orang Bali yang sering kumpul-kumpul dengan rekan-rekan mereka dari suku lain di tanah air, pasti pernah mengalami, betapa mereka diharapkan menjadi pengocok perut dalam pertemuan itu. Agar suasana jadi santai dan yang hadir bisa tertawa terpingkal-pingkal. Orang Bali dianggap memiliki takdir untuk menjadikan suasana hangat dan bersahabat.

Logat orang Bali berbahasa Indonesia, misalnya, hampir selalu dianggap lucu. Logat mereka udik, lugu, mengundang gelak tawa dan kasihan, namun membuat pendengarnya menjadi senang dan segera akrab. Tak sedikit orang akhirnya menjalin persahabatan dengan orang Bali berkat bakat lucu itu. Mungkin, kelucuan itu bersumber dari watak orang Bali yang, konon, suka tersenyum, rendah hati, dan terbuka dengan siapa saja. Bukankah senyum merupakan bibit tawa?

Pelancong-pelancong dari Jakarta atau Bandung yang senang memanfaatkan jasa sopir orang Bali ketika mereka dolan ke objek wisata, senantiasa terkesan oleh kelucuan dan keluguan sopir-sopir itu. Sopir yang merangkap pemandu wisata itu sering memberi layanan dan penjelasan tentang objek yang dikunjungi disertai cerita-cerita lucu dan guyonan-guyonan segar. Kemudian pelancong itu menyarankan kepada rekannya yang hendak liburan ke Bali untuk menggunakan jasa sopir lucu itu. “Lu cari aja Pak Ketut, sopir yang suka melucu itu. Nich… nomor hape-nya!”

Belakangan, predikat lucu bagi orang Bali kian melebar dan beragam. Tidak lagi lucu dalam arti sesungguhnya, tetapi lucu sebagai sebuah sindiran. Misalnya, orang Bali dikenal sangat suntuk dan khusuk kalau ada upacara di pura atau kegiatan adat dan keagamaan. Tak lama kemudian, mereka juga asyik bermain ceki atau domino. Ini dianggap lucu oleh pelancong-pelancong, ketika mereka diajak menyaksikan odalan di sebuah pura desa. “Lucu ya!?”, ujar pelancong itu. “Bersujud dan berbakti, tetapi juga berbuat dosa sekaligus. Ha, ha, ha !" Sopir orang Bali itu juga ikut tertawa. Benar-benar lucu. Lucunya dobel; peristiwanya lucu, kisahnya pun tak kalah lucu.

Orang Bali lucu tidak hanya bisa disaksikan dalam pertunjukan drama-gong. Ada orang Bali yang lama di Jakarta berkomentar, “Bali itu memang sudah habis-habisan lucu, lebih lucu dari pentas drama-gong.” Ia menyebut begitu gigih orang Bali mempertahankan agar Bali tetap Bali (Ajeg Bali). Mereka mencermati perkembangan tempat-tempat tujuan wisata. Apalagi jika pembangunan wisata itu menyangkut kawasan suci. Tapi, mereka kemudian bersilang pendapat antara setuju dan menolak. Ini tergolong lucu, karena selalu terjadi seperti itu, berulang kali. Yang kemudian menjadi lebih lucu, orang Bali tak mau belajar dari pengalaman. Rencana pemanfaatan ratusan hektar hutan dan Danau Buyan untuk bisnis hiburan industri pariwisata, juga bisa dijadikan contoh, betapa Bali memang sungguh-sungguh lucu. Pejabat yang berwenang memberi izin, begitu mendengar hasrat investor hendak mencaplok kawasan danau itu, sepantasnya langsung menolak. Jika investor tetap melangkah, pejabat itu semestinya berang. Tetapi yang terjadi, si pejabat yang notabene adalah orang Bali, justeru memberi ijin. Maka bukan hanya orang Bali sopir, orang Bali pejabat juga lucu.

Kelucuan-kelucuan di Bali memang sudah berhamburan. Ketika tanah-tanah di kawasan suci Pulau Serangan, tempat keberadaan Pura Sakenan, dicaplok investor, orang Bali marah besar. Tapi, tatkala investor memperluas pulau suci itu, membangun jembatan untuk menghubungkannya dengan daratan Denpasar Selatan, orang Bali senang. Mereka girang, karena bisa langsung naik motor atau mobil ke Pura Sakenan, tak usah lagi naik jukung. Tidakkah ini super-lucu? Sebuah keluarga menghabiskan puluhan juta rupiah untuk menyelenggarakan upacara ngenteg linggih di sanggah, tapi si ayah menolak membiayai sekolah anaknya kuliah. “Untuk apa kuliah, toh tamat nanti susah cari kerjaan. Berlayar saja, kerja di kapal pesiar, duitnya banyak!”, hardik si bapak. Si anak lanang menangis, karena ia cinta ilmu dan benci jadi jongos. Bagi si bapak, tidak ada orang Bali yang bekerja sebagai pembantu, yang ada adalah bekerja di kapal pesiar dan mengirim duit banyak, untuk digunakan 'maceki' dan 'matajen'. Ini contoh menyedihkan, tetapi lucu.

Banyak tempat keramat, dekat kuburan misalnya, yang dulu lengang, kini dipadati penghuni. Pelopor hunian itu adalah kaum pendatang. Orang Bali awalnya marah karena tempat keramat, menyalahai tri hita karana. Tapi, lambat laun, orang Bali juga ikut membangun warung atau toko, berebut rezeki di wilayah itu. Lucu. Orang Bali itu pun bekerja giat, meniru kegigihan para pendatang. Ia jadi sibuk, tak sempet lagi bikin canang. Ia pun berlangganan canang untuk sesaji sehari-hari. Karena punya banyak duit, ia beli kulkas besar. Dan canang-canang dimasukkan ke kulkas itu agar tetap segar. Dulu, ini aneh dan lucu, sekarang tidak lagi. Sudah lazim. Mereka menganggap dewa-dewi, bhatara-bhatari, layak juga menikmati “santapan” dingin.

Masih banyak lagi contoh untuk menunjukkan betapa orang Bali itu sungguh-sungguh lucu. Satu per satu, sehari-hari, bisa disaksikan betapa mereka berlomba-lomba untuk menjadi lucu. Kalau Bali menerus lucu, tentu tiada henti ia akan ditertawakan orang. Apalagi, di tengah-tengah menjadi bahan tertawaan orang, orang Bali justeru menjadi bangga, merasa dikagumi bahwa dirinya lucu. Ha-ha!

Disadur dengan sedikit perubahan kata-kata dari:  http://nakbalibelog.wordpress.com/2012/08/20/alangkah-lucu-orang-bali/

Untuk Kita Renungkan: Mengapa Sebagian Umat Kaharingan Ingin Keluar dari Hindu?

Penduduk asli Pulau Kalimantan adalah Suku Dayak. Mereka terbagi dalam 405 sub suku, yang masing-masing mempunyai bahasa dan adat-istiadat sendiri-sendiri. Tjilik Riwut membagi Suku Dayak ke dalam 7 kelompok, yaitu: (1) Dayak Kayan, yang daerah persebaraniniya meliputi Kabupaten Bulungan di Kalimantan Timur dan Serawak di Malaysia; (2) Dayak Punan, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Berau dan Kutai di Kalimantan Timur; (3) Dayak Iban, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan Serawak di Malaysia; (4) Dayak Ot Danum, yang daerah persebarannya meliputi bagian besar Kalimantan Tengah; (5) Dayak Klemantan, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Barat bagian selatan; (6) Dayak Ngaju, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bagian Tengah; dan (7) Dayak Kenyah, yang daerah persebarannya meliputi Hulu Sungai Belanyan dan Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.

Sebelum datangnya agama-agama besar yang diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah Indonesia, masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri, yang disebut Kaharingan. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat, tetapi juga ajaran untuk berperilaku. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci, melainkan disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Menurut kepercayaan Kaharingan, masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka, seperti dewa-dewa yang menguasai tanah, sungai, pohon, batu, dan sebagainya. Di antara dewa-dewa tersebut, terdapat dewa yang tertinggi, yang sebutannya berbeda-beda di kalangan kelompok suku Dayak satu dengan yang lainnya. Misalnya, Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi mereka Mahatara, sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin dari dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana, kesialan, sakit, dan sebagainya. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh, seperti arah terbang burung, suara burung-burung tertentu, ada ular yang melintas di depannya, dan sebagainya. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia, melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut.

Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar, termasuk di antaranya kehadiran agama-agama besar. Keterbukaan mereka tersebut dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agama mereka masing-masing. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13, dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain, seperti dari Jawa, Melayu, Bugis, dan sebagainya. Suku Dayak yang tinggal di kawasan pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain, banyak yang kemudian beralih memeluk agama Islam. Pada pihak lain, kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. Para mionaris Kristen ini menggunakan media pelayanan sosial, seperti bantuan pendidikan, bantuan ekonomi, dan pelayanan kesehatan. Upaya penyebaran agama-agama besar ini cukup berhasil, terutama dalam merekrut generasi mudanya, sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam, Kristen, atau Katholik. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap bertahan pada kepercayaan Kaharingan.

Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik, salah, dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu.

Menurut pandangan mereka, orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan, sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian, pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal, dan pemujaan alam lingkungan, seperti upacara Tewah/Dalo, upacara penolak bala dan sebagainya, dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut, hilang pula nilai-nilai dan norma-norma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak, seperti pelestarian hutan, rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan, penghormatan terhadap leluhur, dan sebagainya.

Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu Dharma, dan Budha. Hal ini menimbulkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah, sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Sebagian dari para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya, khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu. Setelah bergabung dengan agama Hindu, maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan, yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu. Konsekuensi logis dari bergabungnya mereka ke dalam agama Hindu adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu di Indonesia.

Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan kemudian bergulir semangat reformasi, maka di kalangan umat Hindu Kaharingan pun timbul semangat reformasi. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa Hindu Kaharingan tidak sama dengan agama Hindu sebagaimana yang dianut oleh orang Bali, melainkan merupakan agama yang berdiri sendiri. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi, sejajar dengan agama-agama lainnya. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. Namun tampaknya, di antara mereka juga belum ada kesepakatan bersama mengenai hal ini. Beberapa di antara mereka menawarkan nama BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia), sebagian lagi menawarkan nama Majelis Hindu Kaharingan.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh PHDI untuk mengatasi hal ini? Jumlah pemeluk Hindu Kaharingan pada saat ini diperkirakan tidak terlalu besar, hanya sekitar 1,4 juta jiwa yang tersebar di 4 propinsi di Kalimantan, yaitu: Kalimantan Tengah 300 ribu jiwa, Kalimantan Timur 450 ribu jiwa, Kalimantan Barat 650 ribu jiwa, dan Kalimantan Selatan 40 ribu jiwa.

Sebagaimana telah disebutkan, konsekuensi logis dari masuknya kepercayaan Kaharingan ke dalam agama Hindu adalah kewajiban bagi PHDI selaku majelis tertinggi agama Hindu untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat Kaharingan. Di dalam pembinaan ini, kepada mereka diperkenalkan dengan sistem pantheon (ketuhanan), hari-hari besar keagamaan, serta sarana dan prasarana upacara agama Hindu. Pada kenyataannya, yang digunakan sebagai model adalah adat dan tradisi umat Hindu suku Bali. Persoalan menjadi muncul ketika praktik-praktik keagamaan masyarakat Dayak akhirnya mulai didominasi oleh praktik keagamaan Hindu suku Bali, seperti pembuatan tempat ibadah yang mengacu pada bentuk-bentuk pura yang ada di Bali, sesaji yang didominasi oleh bentuk sesaji Bali, pakaian adat Bali, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah pembinaan orang Dayak untuk lebih memahami Hindu, melainkan untuk menerima budaya suku Bali. Sementara itu, sejak dahulu masyarakat Dayak telah memiliki sistem pantheon tersendiri, tempat ibadah sendiri, dan bentuk sesaji tersendiri yang berbeda jauh dengan bentuk sesaji yang ada di Bali.

Berbeda dengan agama-agama besar lainnya, agama Hindu tidak mengenal doktrin yang penyeragaman. Hindu berkembang dalam tradisi ke-bhinnekaan yang di Bali sendiri dikenal sebagai konsep Desa, Kala, Patra (Tempat, Waktu dan Kondisi). Hanya saja, entah mengapa kemudian, ketika berhadapan dengan suku yang berbeda, yang muncul adalah semangat Balinisasi, bukan semangat berdasarkan konsep Desa, Kala, Patra. Penganut Hindu suku Bali, ketika dipertanyakan mengapa agama Hindu di Bali tidak sama dengan di India, akan menjawab dengan menggunakan konsep ini. Tetapi ketika PHDI melakukan pembinaan di kalangan umat Hindu Kaharingan, haruskan mengajarkan membuat banten, merayakan Galungan dan Kuningan, dan mengucapkan Om Swastyastu dan Om Shanti, Shanti, Shantih, Om (sedangkan umat Hindu di India menggunakan salam Namaste, Namaskar, atau Namaskaram)? Haruskah juga mengajarkan Tri Sandhya yang terdiri atas sejumlah bait sebagaimana yang digunakan di Bali dan bukannya lebih baik mengajarkan mantram Gayatri? Haruskah membangun pura bergaya aritektur Bali dengan mendatangkan arsitek tradisional Bali? Dan sesudah pura dengan gaya arsitektur Bali berdiri dengan megah, haruskah mereka datang ke pura dengan pakaian adat Bali?

Pura berarsitektur Bali di Palangka Raya. Sumber: Sudah Ada Tiga Pura di Kota Cantik

Bila jawaban terhadap pertanyaan ini adalah ya maka permasalahan sebenarnya adalah bukan hanya pada adanya sebagian umat Kaharingan yang ingin keluar dari Hindu, melainkan kita menggiring Hindu menghadapi kehancuran kedua di Nusantara. Seharusnya, sebagai konsekuensi dari konsep Desa, Kala, Patra; kita mengakui bahwa Hindu Kaharingan itu ada, sebagaimana juga Hindu Bali, Hindu Tengger, Hindu Batak, Hindu Kei, dan entah Hindu apa lagi. Sudah tidak zamannya lagi pada era desentralisasi masih tetap ingin menyeragamkan. Nama boleh berbeda-beda, sepanjang mengimani Panca Sraddha, selebihnya bhinneka tunggal ika. Bukankah Hindu akan menjadi benar-benar toleran bila orang Hindu suku Bali di Kalimantan sesekali bersembahyang di tempat ibadah Kaharingan? Atau yang dibangun di kota-kota Kalimantan bukanlah pura berarsitektur Bali melainkan disesuaikan dengan arsitektur Kaharingan?

Disadur dengan beberapa perubahan dari: http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1361&Itemid=121 dan http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1362&Itemid=121. Dua alinea terakhir ditambahkan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites