Senin, 30 Desember 2013

PURA GIRI KERTA BHUWANA KUPANG

Pura Agung Giri Kertha Bhuwana  Kolhua Kupang, merupakan salah satu pura yang menjadi kebanggaan umat Hindu di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten/Kota Kupang. Pura ini dibangun sejak Bulan Oktober 2000, dimulai dari persiapan, pembersihan, dan perataan/pematangan area pura.
Pada awalnya, pengembang Perumahan Lopo Indah, menghibahkan lahan yang berada di Kelurahan Kolhua, di sekitar perumahan Lopo Indah Permai kepada umat Hindu untuk tempat ibadah. Hal ini disikapi oleh umat yang berada di komplek perumahan Lopo Indah dengan mengadakan rapat yang saat itu dihadiri oleh Pinandita Drs. IGM. Putra Kusuma, M.Si. yang kebetulan bliau ketika itu menjabat sebagai Wakil Ketua PHDI NTT, dan pinandita bapak I Dewa Ketut Alit Swastama. Hasil pertemuan tersebut menyepakati untuk membangun sebuah pura. Selanjutnya, kesepakatan tersebut  disampaikan ke Ketua PHDI NTT Bapak I Nyoman Kusumanata, dan ketua PHDI NTT pun menyambut baik gagasan tersebut. Kemudian dibentuklah suatu Panitia Pembangunan, diketuai oleh Bapak Nyoman Mastu, B.Sc., yang bertugas untuk menggalang dana, dan pembangunan pura dimaksud. Selanjutnya, pengurus PHDI NTT dan Panitia Pembangunan, serta umat, bersima krama dengan Bapak Mangku Pastika, sebagai Kapolda NTT yang baru saja dilantik. Pada saat itu disampaikan gagasan tentang pembangunan pura di atas area lahan hibah dimaksud, dan gagasan tersebut sangat disetujui, bahkan  Bliau menyanggupi untuk mepunia Padmasana. Mulai saat itu, umat saling bahu membahu bergotong royong untuk pematangan lahan.
Pembangunan Padmasana  dimulai pada Tanggal 15 Maret 2001, dan secara bertahap pembangunan pura terus berlanjut. Akhirnya, atas tuntunan  Brahman, Ida Sang Hyang Widhi, serta partisipasi yang begitu besar dari warga Hindu di Kabupaten/Kota Kupang, yang didukung pemerintah pusat melalui Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Kabupaten/Kota Kupang, serta para dermawan yang budiman, akhirnya pembangunan Pura Agung Giri Kertha Bhuwana, yang berdiri di atas lahan seluas 3.101 m2 (bersertifikat) telah dapat diselesaikan secara keseluruhan pada awal Tahun 2008. Pura ini terdiri atas 3 bagian, yaitu  Area Utama Mandala (Jeroan) yang di atasnya terdapat bangunan Padmasana, Pengrurah, Pepelik, Bale Pawedan, dan Gedong Penyimpanan.
Jadi Pura Giri Kertha Bhuwana, berarti sebuah tempat suci (merupakan linggih/stana  Brahman, Ida Sang Hyang Widhi) yang utama (mulia) berada di atas bukit/gunung yang dapat memberikan rasa ketentraman, kesentausaan, dan kesejahteraan lahir dan banthin bagi umat manusia, khususnya umat Hindu, baik dalam bhuwana alit, maupun bhuwana agung.
Area Madya Mandala (Jaba Tengah), berdiri bangunan Bale Kulkul, Bale Pertemuan, dan Apit Lawang, dan Area Nista Mandala (Jaba Sisi), ada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai dapur, kamar mandi, ruangan penjaga pura. Area Mandala Utama dengan Area Jaba Tengah dipisahkan oleh bangunan Kori Agung
Sedangkan Area Jaba Tengah dengan Area Jaba Sisi, dipisahkan oleh bangunan Candi Bentar. Pura Agung Giri Kertha Bhuwana mengandung arti sebagai berikut:
  • Pura, adalah tempat suci umat Hindu yang merupakan stana (linggih, tempat) Brahman, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan merupakan kebutuhan spiritual umat Hindu didalam menghaturkan dharma bhaktinya kepada sang pencipta,
  • Agung, berarti utama, besar, dan mulia,
  • Giri, berarti gunung,
  •  Kertha, berarti tentram, sejahtera, aman, dan sentosa, dan Bhuwana, berarti alam jagad raya.
Jadi Pura Giri Kertha Bhuwana, berarti sebuah tempat suci (merupakan linggih/stana  Brahman, Ida Sang Hyang Widhi) yang utama (mulia) berada di atas bukit/gunung yang dapat memberikan rasa ketentraman, kesentausaan, dan kesejahteraan lahir dan banthin bagi umat manusia, khususnya umat Hindu, baik dalam bhuwana alit, maupun bhuwana agung.

Sebagai suatu pura yang telah selesai dibangun secara lengkap, maka sudah sepatutnya sebelum difungsikan sesuai dengan peruntukannya, perlu dilakukan suatu upacara Ngenteg Linggih (ngenteg berarti mengukuhkan, dan linggih berarti tempat atau stana). Ngenteg Linggih dapat diartikan sebagai suatu upacara untuk menyucikan, mensakralkan, menstanakan, Nyasa tempat pemujaan terhadap Brahman, Ida Sang Hyang Widhi, atau Ngenteg linggih merupakan suatu upacara untuk memulai menstanakan Ida Sang Hyang Widhi di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana Kolhua Kupang. Melalui karya Ngenteg Linggih, akan memberikan motivasi, rasa memiliki yang besar bagi umat Hindu (pengemponnya), serta dapat terjalin hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horisontal (Tri Hita Karana: hubungan antara manusia, manusia dengan lingkungannya, dan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi). Tujuan dilaksanakannya Karya Ngenteg Linggih tersebut adalah untuk menyucikan, menstanakan linggih Brahma, Ida Sang Hyang Widhi di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana scara sekala dan niskala. Selanjutnya dapat diharapkan vibrasi kesucian pura akan semakin meningkat dan dapat memberikan rasa nyaman, rahayu, sejahtera lahir dan banthin bagi seluruh umatNYA.
Puncak Karya Ngenteg Linggih  dilaksanaan pada hari Sabtu, Tanggal 7 Juni 2008 (Saniscara Umanis Watugunung) bertepatan dengan hari raya Saraswati, tetapi runtutan kegiatannya sudah dimulai sejak Tanggal 4 Mei 2008, yaitu pada saat ‘nuwasen karya’ (hari baik memulai persiapan pelaksanaan karya), sampai penyelenggaraan karya enam (6) bulan berikutnya, yaitu pada Hari Sabtu, 3 Januari 2009.  Karya Ngenteg Linggih ini, dipuput oleh Sulinggih/Pandita  IDA PEDANDA GDE PANJI SOGATA
 Peresmian secara skala, dilakukan oleh Gubernur NTT pada Tanggal 7 Juni 2008 pada pagi hari Jam 08.00-11.30 Wita, dihadiri oleh Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Wakil Walikota Kupang, Wakil ketua DPRD Kota Kupang, Kakanwil Departemen Agama Prov. NTT, Uskup Agung Kupang, Sekretaris Keuskupan, Ketua MUI Provonsi NTT, PHDI Provinsi NTT, Muspida Provinsi, Kabupaten, dan Kota Kupang, para rohaniawan, tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan BTN Kolhua Kupang, seluruh umat Hindu di Kabupaten dan Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI (yang dibacakan oleh Direktur Bidang Pendidikan, Drs I Made Sujana) mengharapkan kepada umat se dharma agar terus melakukan kegiatan keagamaan di pura ini agar dapat memaksimalkan fungsinya sebagai tempat peribadatan. Pura Agung Giri Kertha Bhuwana ini, juga pura-pura lainnya, harus mampu menjadi benteng moral dalam menangkal dampak negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan, informasi, dan teknologi, karena pura sebagai tempat untuk memohon kekuatan kepada Brahman/Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari segala godaan duniawi. Selain itu, Dirjen juga berharap agar dapat difungsikan sebagai tempat kegiatan pendidikan agama dan keagamaan, dan tempat melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Sementara itu, Gubernur dalam sambutannya (yang dibacakan oleh Asisten III Setda Prov. NTT, Drs. Simon P. Mesah, M.Si) menyatakan kiranya tempat suci ini  dapat dimanfaatkan oleh segenap umat Hindu di Kabupaten/Kota Kupang untuk dapat melaksanakan sembahyang dan upacara-upacara keagamaan, serta dapat dimanfaatkan sesuai kegunaan dan fungsinya. Kepada umat Hindu Gubernur berharap kiranya dapat terus membina kerukunan  demi  kebersamaan menuju kesejahteraan masyarakat. Hubungan sosial dengan umat lain senantiasa dijaga, sehingga tercipta keharmonisan dan ketentraman Peresmian pura ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemukulan gong. Usai peresmian, undangan diberi kesempatan untuk meninjau lokasi dan bangunan pura  dan selanjutnya dilakukan penanaman beberapa pohon di pelataran pura oleh Gubernur NTT, wakil Walikota Kupang, Ketua DPRD Kota Kupang, Ketua PHDI Provinsi NTT disertai oleh Uskup Agung Kupang, dan Ketua MUI Provnsi NTT.
Sumber:
Laporan Panitia Ngenteg Linggih Pura Giri Kertha Bhuwana Kolhua Kupang, 2008
I GM. Putra Kusuma, Tokoh Umat, Ketua PHDI Prov. NTT

0 komentar:

Posting Komentar

Kami sangat berterima kasih kepada Anda yang berkenan menyampaikan komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites