Selasa, 18 Februari 2014

MAHA PRALAYA (HARI KIAMAT) DAN TANDA-TANDANYA



Om Swastyastu,
Hari kiamat merupakan hari yang datangnya bagi sebagian umat manusia merupakan hari yang sangat ditakuti, akan tetapi bagi sebagian umat dimuka bumi lainnya hari yang sangat ditunggu-tunggui. Terlepas dari dua paradigma di atas, bagi umat hindu sendiri mengenal adanya hari kiamat, lebih jauh bahwa setelah masa itu, akan diganti lagi dengan kehidupan yang baru dimulai dari proses awal penciptaannya. Dalam Kitab Brahmanda Purana dengan salah satu ajarannya yang ditekankan adalah mengenai adanya hari kiamat (Pralaya).
Pralaya diartikan sebagai suatu keadaan dimana seluruh makhluk, manusia,
tumbuh-tumbuhan dikatakan musnah sehingga tidak ada lagi kehidupan di dunia
ini. Kejadian ini terjadi pada akhir jaman Kali (Kaliyuga).
Terdapat empat macam Pralaya, yaitu:
1.     Nityapralaya; merupakan suatu kejadian setiap hari dari semua makhluk hidup mengalami saat kematian hingga masa kematian.
2.     Brahmapralaya; ialah pralaya yang dialami oleh Brahma, diartikan sebagai Brahma tidur/istirahat dan pada saat itulah semua kehidupan tidak ada lagi, musnah.
3.     Praktrapralaya; diartikan sebagai masa awal penciptaan dimana saat ini merupakan saat dimana alam yang tidak nyata (alam awyaka).
4.     Atyantikapralaya; masa dimana dari alam yang tidak nyata menjadi nyata.
Di sini akan kita coba membahas mengenai Brahma Pralaya. Pada saat itu dikatakan merupakan hari kiamat. Tapi jika kita telaah lebih lanjut dengan adanya pralaya yang ke tiga dan ke empat, ternyata hari kiamat yang dimaksudkan bukanlah merupakan akhir dari kehidupan itu sesungguhnya, karena kehidupan berikutnya akan terjadi lagi. Akan tetapi kehidupan yang baru tersebut adalah bukan dari lanjutan kehidupan yang lalu. Hal ini karena Tuhan akan melakukan kerja kembali dan menciptakan lagi suatu kehidupan dengan melalui suatu proses yang dari awal lagi, yaitu dari sesuatu yang tidak ada menjadi sesuatu yang ada yang selanjutnya akan terciptalah sesuatu yang lainnya seperti awalnya dan masa kemusnahan ini memakan waktu yang sangat lama (satu pararddha yang sama dengan 17 angka nol) dan kembali lagi ke jaman Krtayuga. Demikian kalau kita artikan dalam kitab Brahmanda Purana mengenai Maha Pralaya.
Pralaya dikatakan akan terjadi pada jaman Kaliyuga. Jaman Kaliyuga merupakan jaman terakhir dari ke empat jaman yang ada yang antara lain adalah jaman Kretayuga, jaman Tretayuga, dan jaman Dwaparayuga, dan terakhir adalah jaman Kaliyuga. Dikatakan bahwa umur manusia pada setiap jaman rata-rata tidaklah sama, rata-rata panjang umur manusia akan semakin berkurang dari satu jaman ke jaman lainnya, pada tiga jaman yang pertama rata-rata umur manusia masih di atas 100 tahun, selanjutnya hingga ke jaman Kaliyuga dikatakan bahwa rata-rata umur manusia tidak lebih dari 100 tahun.
Terjadinya Brahma Pralaya adalah sebagai berikut; pada akhir masa satu kalpa atau sehari Brahma, yaitu sama dengan 1000 yuga, dunia akan musnah. Selama 1000 tahun dunia akan timbul masa kekeringan sehingga dapat memusnahkan semua ciptaan ini. Kejadian ini dimulai dengan terjadinya pengisapan yang terus menerus yang dilakukan oleh tujuh macam sinar matahari yang akan mengosongkan air-air ini yang ada di muka bumi, yaitu di alam patala dan samudra.
Dengan telah habisnya air itu akibat diserap oleh ketujuh sinar matahari tersebut, maka akan timbul tujuh gumpalan air yang terpisah dan seterusnya akan menjadi tujuh bola pijar yang sekaligus akan membakar habis segala yang ada dimuka bumi dan planet lainnya sampai surga pun musnah. Sedangkan penghuni yang ada akan dipindahkan ke Mahaloka dan dari situ kelak akan dipindahkan ke Janaloka. Dikatakan selanjutnya adalah dunia akan kembali lagi dari jaman Krtayuga melalui Bathara Wisnu sebagai kekuatan dan fungsi Brahman sebagai pemelihara suatu kehidupan hingga kemudian ke Bathara Brahma sebagai fungsiNya sebagai pencipta.
Apakah Brahma Pralaya sudah semakin dekat?. Kalau kita cermati keterangan di atas tentang bagaimana proses terjadinya Brahma Pralaya, kemudian kita mencoba untuk menghubung-hubungkan dengan keadaan dunia yang akhir-akhir ini dengan segala problemanya, seperti:
1.     Hutan semakin gundul; terjadi pembalakan hutan secara ilegal, penebangan pohon dimana-mana, luasan hutan sudah semakin berkurang, peralihan fungsi hutan terjadi dimana-mana,  lahan-lahan kosong sudah semakin menyempit yang kemudian diganti dengan pembangunan pemukiman, keserakahan manusia sudah merajalela dengan merusak lingkungan yang ada, ruang terbuka hijau sudah hampir-hampir sulit dijumpai, dlsbgnya.
2.     Moral manusia semakin merosot; moral manusia saat ini sudah sangat merosot, terjadi perkosaan dimana-mana, antara bapak kandung dengan anak kandungnya atau anak tirinya, terjadinya perselingkuhan yang sangat terbuka bisa terjadi dimana-mana, hubungan sex bebas, anak-anak dengan cara yang begitu mudah dapat mengakses gambar atau foto-foto atau film-film porno. Anak sudah tidak menghargai orang tuanya lagi, anak sekolah tidak lagi menghormati gurunya dll.
3.     Kejahatan yang semakin meningkat; kejahatan dari tingkat anak-anak, remaja, dan kejahatan orang tua sudah sangat tinggi, bahkan perbedaan antara kejahatan anak-anak, remaja, dan orang tua sudah tidak jelas perbedaannya, pada bagian mana yang menunjukkan perbedaannya. Perampokan, pencurian, pemerasan, korupsi, semuanya sudah semakin mengkhawatirkan.
4.     Dunia semakin panas/kekeringan dimana-mana; kekeringan telah terjadi dimana-mana, sumber air semakin sulit/berkurang. Beberapa sumber mata air telah kering, beberapa danau telah berubah bentuk, yang tadinya sebagai sumber air, telah berubah menjadi kompleks hunian. Demikian pula daerah-daerah yang tadinya berfungsi sebagai sumber resapan telah beralih fungsi. Kekeringan terjadi dimana-mana, kerawanan pangan adalah sebagai dampak dari kekeringan tadi. Sumber air bersih sudah sangat langka, akibatnya yang tadinya kotor dan berbau, kini diolah agar dapat dikonsumsi. Sumber penyakit pun merajalela akibat dari pengolahan air yang tidak higenis oleh karena air tersebut berasal dari sumber air yang sangat kotor.
5.     Terjadi perang dimana-mana; perang dimaksudkan adalah bukan saja perang yang terjadi antara negara, akan tetapi juga perang yang terjadi antara suku, perang antara desa satu dengan desa lainnya, kampung satu dengan kampung lainnya, perang antara kelompok, perang antara anak sekolah dengan segala bentuk permasalahan, semuanya akibat dari masalah perut yang kosong, masalah tanah, masalah kekayaan, dengan segala bentuknya.
6.     Manusia saling membunuh dengan sadisnya; saat ini hanya karena masalah uang Rp 1000 saja orang sudah begitu tega saling membunuh. Pembunuhan multilasi, tanpa perasaan dan tanpa penyesalan telah begitu gampang dilaksanakan oleh seseorang terhadap teman akrabnya sendiri. Bahkan seorang anak dengan sadisnya membunuh orang tuanya hanya karena hal yang sepele (tidak diberi uang), hanya karena sebiji buah nangka saja seorang anak tega membunuh kakaknya, anak SD secara nekad telah menggantung dirinya karena belum membayar uang sekolah ataupun karena tidak dibelikan HP, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.
7.     Bencana terjadi dimana-mana; bencana sepertinya tidak putus-putusnya terjadi dimuka bumi ini. Dari Tsunami, angin puting beliung, topan George dll yang begitu banyak namanya. Gempa bumi, gunung-gunung meletus mengeluarkan kawahnya dan tanah longsor maupun banjir yang semuanya memakan banyak korban jiwa maupun materi yang tidak sedikit jumlahnya.
Tampaknya dunia/bumi sudah sangat panyah menompang segala macam bentuk kehidupan dan perbuatan manusia yang berada di atasnya yang diandaikan bumi sebagai seorang manusia yang sudah renta dan sedang kesakitan berjalan tertatih-tatih memikul beban yang sangat berat. Bahwa jaman Kaliyuga sudah semakin tua dan semakin dekat berakhirnya, masa kerja Brahma tampaknya sudah semakin dekat untuk menuju masa istirahat-Nya dan jika Brahma beristirahat, maka bersamaan dengan itu pula terjadilah suatu kehancuran dengan bumi. Bumi dengan segala isinya beserta planet-planet lainnya akan hancur lebur dan yang akhirnya menjadi musnah, keadaan inilah yang dikenal dengan istilah kiamat. Apakah tanda-tanda yang telah disebutkan di atas merupakan tanda-tanda akan datangnya sebuah peristiwa luar biasa (kiamat) dan merupakan akhirnya jaman Kaliyuga, oleh karena Brahman telah payah (capek) dan perlu beristirahat???
Apa yang kita harus lakukan jika demikian???????!.
Semua yang ada didunia baik itu merupakan benda mati maupun benda hidup akan menuju kamusnahannya juga. Bahwa yang ada di dunia ini adalah bersifat tidak kekal (sementara). Semua akan termakan oleh waktu, waktu jualah yang akan menentukan akan datangnya peristiwa yang maha dahsyat tersebut, k i a m a t ..........
Berputar/berjalannya waktu tidaklah dapat ditunda atau dibatalkan, dia akan berjalan terus sesuai dengan hukum yang ada (Rta). Demikian pula dengan jaman Kretayuga telah berlalu, kemudian diganti jaman Tretayuga demikian pula jaman Tretayuga berganti dengan jaman Dwaparayuga  selanjutnya berganti lagi ke jaman sekarang yaitu jaman Kaliyuga, seperti jaman-jaman lainnya, jaman Kaliyuga pun akan segera berakhir dan kiamat pun akan datang yang kemudian akan kembali ke jaman Tretayuga, suatu jaman ketenangan, kedamaian, kemakmuran.
Manusia hanya bisa menunggu kapan hari kiamat itu akan datang, akan tetapi tanda-tanda akan datangnya hari kiamat itu menunjukkan saatnya sudah semakin dekat. Oleh karena itu manusia atau mereka yang selama ini lebih banyak membaktikan dirinya terhadap duniawi, dunia materi dan telah lupa akan ajaran Dharma, mulailah kembali ke jalan Dharma, ke jalan kebaikan, yang merupakan jalan menuju Tuhan (Brahman).
Ajaran dalam kitab suci Weda, mengajarkan tentang tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu Moksa (Moksartham jagadhita ya caiti Dharma), adalah suatu kehidupan yang kekal dimana Atman yang berada pada setiap makhluk hidup/insan,  mencapai tujuannya bersatu dengan Brahman sebagai pusat atau sumber dari Atman itu sendiri. Atman merupakan bagian dari Brahman, Atman hanyalah bagian dari Brahman yang dititipkan pada manusia (pada jazad kasar) agar dapat hidup, tanpa Atman badan kasar tidak dapat berfungsi. Atman dan Brahman adalah satu (Brahman Atman Aikyam).
Bagawadgita Bab VI, sloka 30 menyatakan:
dia yang jiwanya terkonsentrasikan oleh yoga melihat Atman ada pada semua
insan dan semua insan ada pada Atman, dimana-mana ia melihat yang sama.
Sedangkan pada Bab V, sloka 26 berbunyi:
dia yang menguasai diri pribadinya mengontrol pikirannya, bebas dari nafsu
dan murka mengetahui Atman ada disekitar dirinya mencapai nirwana bersatu
dengan Brahman.
Untuk itu hindarilah apa yang disebut dengan punarbawa atau samsara atau reinkarnasi (kehidupan yang berulang ulang kembali ke dunia), yang memiliki makna sebagai kelahiran yang berulang kali adalah akibat dari perbuatan asubha karma (perbuatan buruk) yang lebih banyak dari pada perbuatan yang baik (subha karma). Keterikatan manusia akan materi akan mengakibatkan atman akan selalu terikat pada materi sehingga selalu ingin lahir kembali untuk menemui materi yang belum didapatkan akibat dari rantai kehidupannya yang telah terputus. Manusia diberi akal dan budhi untuk dapat mengatur tingkah lakunya agar tidak terikat oleh benda duniawi. Manusia diberi akal dan budi untuk dapat membedakan dan memilah dan memilih mana perbuatan/tindakan yang baik dan yang mana merupakan perbuatan yang tidak baik.
Bagawadgita Bab VIII, Sloka 14 menyatakan: 
dia yang terus-menerus mengenang Aku tidak memikirkan apa dan apalagi selalu menguasai dirinya sebagai yogi. Oh Parta, dengan mudah sampai kepada-Ku.
Sedangkan dalam Bab VIII sloka 15 menyatakan:
setelah sampai kepada-Ku, mereka yang berjiwa besar ini tidak lagi menjelma
ketempat penuh duka di dunia tak kekal ini dan mereka tiba pada kesempurnaan
tertinggi.
Berdasarkan sloka-sloka tersebut di atas, maka wajiblah manusia akan selalu ingat/eling kepada Brahman, eling bahwa manusia adalah hanyalah sebagai suatu ciptaan Brahman yang akan pergi dan musnah jika Brahman berkehendak. Dengan demikian sebelum kejadian itu menimpa engkau umat manusia lebih banyaklah berbuat baik, lebih banyaklah berdoa. Dalam Slokantara disebutkan bahwa
“agar engkau tidak keliru dalam melakukan kegiatan apapun, sebutlah Oum. Agar semua yang engkau kerjakan akan mendapatkan keselamatan dan pekerjaan tersebut akan direstui dan dilindungi Brahman.
Om Santi, Santi, Santi, Om
Penulis: I.N. Widiartha Mahayasa, Ketua PHDI Kota Kupang
Telah disetujui dan diedit oleh Lembaga Dharma Duta Kab./Kota Kupang
a.n Ketua LDD Kab./Kota Kupang Waket/Bid. Dharmawacana
Pratama B.A.P. Samosir, S.Ag

5 komentar:

berarti kita harus bersiap-siap menerima hari kiamat hari yg sangat di takuti olehh seluruh umat manusia

Brahman / Allah kok capek ?

rasah wedi sek mesti ono

Ya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang Mahakuasa

Posting Komentar

Kami sangat berterima kasih kepada Anda yang berkenan menyampaikan komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites